Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada akhir perdagangan, Rabu (20/5/2026). Seperti dilansir dari Money, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan indeks nasional melorot 0,82 persen atau kehilangan 52,18 poin ke level 6.318,50.
Fluktuasi indeks domestik bergerak cukup dinamis di sepanjang sesi perdagangan. Angka IHSG sempat terangkat hingga menyentuh titik tertinggi pada posisi 6.459,56, namun juga sempat merosot ke level terendah di 6.215,56 setelah dibuka di level 6.352,20.
Gelombang aksi jual terpantau masih menguasai jalannya aktivitas pasar modal dalam negeri. Kondisi ini ditunjukkan dengan melemahnya 483 saham, berbanding terbalik dengan 208 saham yang bergerak naik dan 126 saham yang posisinya tidak berubah.
Kendati indeks acuan mengalami penyusutan, volume perdagangan di lantai bursa dinilai tetap berjalan padat. Nilai transaksi secara akumulatif menyentuh Rp 21,59 triliun, dengan kuantitas saham yang berputar mencapai 40,22 miliar lembar melintasi frekuensi transaksi sebanyak 2,47 juta kali.
Koreksi pasar juga menjalar ke sejumlah indeks saham spesifik lainnya. Kelompok LQ45 tercatat menyusut 0,65 persen menuju level 630,68, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) yang merepresentasikan saham syariah ikut tergerus 1,99 persen menuju angka 401,98.
Kondisi serupa dialami oleh indeks KOMPAS100 yang mengalami penurunan sebesar 1,30 persen hingga ke posisi 832,35. Sementara itu, indeks IDX30 ikut menderita pelemahan tipis sebesar 0,38 persen sehingga menetap pada level 360,10.
Sebagian besar indeks sektoral kompak bergerak turun akibat tekanan jual yang masif. Tercatat hanya ada dua sektor yang mampu melepaskan diri dari zona merah dan mengakhiri sesi di area positif, yakni sektor keuangan serta infrastruktur.
Sektor keuangan tampil menjadi penggerak utama yang menahan kejatuhan pasar lebih dalam lewat pertumbuhan sebesar 1,21 persen. Di sisi lain, sektor infrastruktur hanya sanggup merosot tipis ke zona hijau dengan kenaikan sebesar 0,05 persen.
Sebaliknya, koreksi paling parah melanda sektor barang baku yang terhempas hingga 4,67 persen pada akhir perdagangan. Sektor transportasi menyusul di belakangnya dengan penurunan 4,22 persen, kemudian sektor energi yang ikut melemah sebesar 2,65 persen.
Penurunan kinerja sektor lainnya juga terlihat pada industri barang konsumsi nonprimer yang terpangkas sebesar 2,06 persen. Selanjutnya, sektor properti mengalami pelemahan 0,83 persen dan sektor barang konsumsi primer susut sebesar 0,24 persen.
Daftar Saham Unggulan dan Paling Aktif
Gerak mundur IHSG tidak lepas dari beban yang diberikan oleh kejatuhan harga saham-saham dengan kapitalisasi pasar raksasa. Pada kelompok LQ45, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menempati posisi teratas saham berkinerja terburuk setelah merosot 10,18 persen.
Posisi penurunan di jajaran blue chip berikutnya ditempati oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melemah 9,23 persen. Selain itu, saham komoditas PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga ikut tergelincir sebesar 6,99 persen.
Meski pasar modal didominasi tren negatif, beberapa saham berkapitalisasi besar terpantau masih menguat. Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memimpin kelompok LQ45 dengan lonjakan 6,42 persen, diikuti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebesar 5,44 persen dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) senilai 5,18 persen.
Untuk skala pasar secara menyeluruh, peringkat kenaikan tertinggi dipimpin oleh LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) yang melesat 29,33 persen menuju level 194. Super Energy Tbk (SURE) mengekor dengan kenaikan 24,89 persen ke posisi 2.960, serta Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) melambung 24,81 persen ke level 1.610.
Pada klasemen penurunan pasar secara umum, Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) anjlok paling parah sebesar 15 persen ke level 510. Penurunan disusul oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar 14,74 persen ke posisi 2.660 dan PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang melemah 14,67 persen menjadi 785.
Aktivitas transaksi pasar menempatkan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai yang paling dominan dengan nilai perdagangan menyentuh Rp 1,88 triliun. Angka transaksi ini mengungguli PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 1,30 triliun dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 1,16 triliun.
Nilai transaksi besar berikutnya dicatatkan oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan nilai Rp 838,94 milar, disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 837,91 miliar. Dari segi kuantitas lembar, saham BUMI juga menempati urutan teratas perdagangan dengan volume mencapai 106,01 juta lembar saham.
Volume transaksi harian terbesar berikutnya ditempati berturut-turut oleh PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) sebanyak 16,04 juta lembar saham, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar 13,99 juta lembar, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) 12,68 juta lembar, serta PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) sebanyak 10,47 juta lembar saham.
Rupiah Menguat Efek Kenaikan BI Rate
Situasi berbeda ditunjukkan oleh mata uang nasional yang sukses mencatatkan performa positif di pasar spot. Kurs Rupiah ditutup menguat 55 poin atau naik sebesar 0,31 persen, sehingga menempati posisi Rp 17.650 per dollar AS pada hari Rabu (20/5/2026).
Pada awal sesi pagi, mata uang Garuda sebenarnya sempat tertekan terlebih dahulu hingga ke posisi Rp 17.738 per dollar AS. Posisi pembukaan tersebut sempat mencerminkan pelemahan 0,18 persen apabila dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.706 per dollar AS.
Stimulus bagi penguatan nilai tukar Rupiah datang pasca Bank Indonesia memutuskan untuk mengatrol suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin ke angka 5,25 persen. Keputusan strategis ini diambil melalui forum Rapat Dewan Gubernur BI untuk edisi Mei 2026.
Kebijakan pengetatan moneter tersebut ikut mengerek suku bunga deposit facility sebesar 50 basis poin hingga berada di level 4,25 persen. Selaras dengan itu, instrumen suku bunga lending facility turut dinaikkan sebesar 50 basis poin menjadi 6 persen.
Koreksi yang melanda IHSG berjalan selaras dengan mayoritas bursa saham di kawasan regional Asia yang ikut berselimut zona merah. Indeks Nikkei 225 di Jepang terpangkas cukup dalam hingga 1,23 persen dan mendarat pada level 59.804,41.
Sentimen negatif pasar regional juga terekam pada bursa Hong Kong lewat indeks Hang Seng yang terdepresiasi sebesar 0,57 persen menuju posisi 25.651,12. Penurunan performa pasar saham ini meluas hingga ke dataran China daratan.
Indeks SSE Composite China tergelincir tipis 0,18 persen sehingga menempati level 4.162,18 pada penutupan perdagangan sore. Di kawasan Asia Tenggara, indeks Straits Times Singapura melengkapi tren penurunan bursa regional dengan melemah 0,51 persen menuju posisi 5.046,30.