Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di bawah tekanan berat. Seperti dilansir dari Medcom, pasar saham domestik kembali mengawali perdagangan di zona merah karena dipicu oleh kecemasan investor terhadap situasi ekonomi serta arus keluar modal asing.
Pada pembukaan perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, indeks acuan tersebut langsung merosot sebesar 29,31 poin atau setara 0,48 persen menuju posisi 6.065,63. Sejalan dengan pelemahan tersebut, kelompok saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga mengalami koreksi sebesar 2,42 poin atau 0,39 persen ke level 613,98.
Penurunan pada pagi ini memperpanjang rangkaian tren negatif bursa domestik yang sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Kondisi yang menimpa pasar modal dalam negeri ini terhitung kontras dengan situasi di bursa saham Amerika Serikat. Pada sesi perdagangan sebelumnya, Wall Street justru ditutup di zona hijau dengan performa yang cukup solid.
Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau menguat sebesar 0,55 persen hingga mencapai posisi 50.285,66. Lonjakan juga terjadi pada indeks S&P 500 yang naik 0,17 persen ke level 7.445,72, diikuti oleh Nasdaq Composite yang mengalami kenaikan tipis sebesar 0,087 persen di posisi 26.293,10.
Kendati demikian, atmosfer positif yang dibawa dari bursa New York tersebut rupanya belum memadai untuk mendongkrak optimisme pelaku pasar di dalam negeri yang masih mencemaskan masa depan ekonomi nasional.
Aksi Jual Asing dan Analisis Teknikal
Pada sesi penutupan perdagangan hari sebelumnya, IHSG mencatatkan penurunan tajam sebesar -3,54 persen dan mendarat di posisi 6.094. Kondisi ini diperparah oleh besarnya nilai penjualan bersih oleh investor asing (net foreign sell) yang menembus angka Rp 508 miliar di pasar reguler.
Koreksi mendalam ini melanda pasar saham Indonesia saat bursa utama di kawasan regional Asia sebenarnya sedang bergerak menguat. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga mengalami penurunan seiring kemajuan dalam pembahasan proposal damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Dari faktor domestik, Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan bahwa pasar saat ini tengah mengantisipasi dampak dari penilaian S&P Global Ratings. Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti wacana pembatasan ekspor yang dinilai berisiko mengganggu performa perdagangan luar negeri serta penerimaan kas negara.
Kebijakan tersebut juga dikhawatirkan dapat memperlebar risiko terhadap neraca pembayaran yang pada akhirnya memicu kecemasan atas stabilitas makroekonomi serta prospek peringkat utang Indonesia.
"Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dengan support terdekat di area 6.000 dan support lanjutan 5.900, sementara resistance berada di kisaran 6.400. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data Current Account Balance dan M2 Money Supply," jelas tim riset.