Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan dengan bergerak di zona hijau. Seperti dikutip dari Suara, indeks saham domestik dibuka menguat hingga menyentuh posisi 6.187 di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin, 25 Maret 2026.
Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.05 WIB, penguatan indeks mulai tertahan dengan kenaikan tipis sebesar 0,04 persen ke level 6.164. Aktivitas transaksi di awal sesi tersebut mencatatkan volume perdagangan mencapai 3,03 miliar saham.
Nilai transaksi yang dibukukan pada waktu itu berada di angka Rp1,59 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 178.000 kali. Sebanyak 355 saham tercatat bergerak naik, 189 saham mengalami penurunan, dan 415 saham lainnya stagnan tidak bergerak.
Sejumlah saham yang berhasil menempati jajaran saham dengan kenaikan tertinggi (Top Gainers) saat perdagangan berlangsung meliputi YPAS, HDFA, DIVA, FORU, dan KMTR. Sebaliknya, posisi penurunan terdalam (Top Loser) dihuni oleh saham ASPR, DAAZ, FOLK, CITA, serta BHAT.
Pergerakan indeks saham domestik pada pekan ini diperkirakan akan berlangsung fluktuatif, namun tetap memiliki peluang untuk mengalami technical rebound. Kondisi pasar saham yang dinilai sudah jenuh jual (oversold) mulai membuka celah bagi penguatan yang sifatnya terbatas.
Melalui riset terbarunya, analis dari BRI Danareksa Sekuritas memaparkan bahwa indeks saham sebenarnya masih terjebak dalam fase konsolidasi bearish. Kendati demikian, potensi rebound dalam jangka pendek mulai terbuka seiring dengan meredanya tekanan aksi jual oleh investor asing.
“IHSG diproyeksikan bergerak pada rentang support 6.500 dan resistance 6.720,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset hariannya.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati beberapa faktor krusial, mulai dari arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), pergerakan yield US Treasury, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.
Sentimen negatif dari dalam negeri juga turut membayangi pergerakan pasar, termasuk kekhawatiran terhadap sejumlah regulasi di sektor komoditas serta aksi jual yang dilakukan investor asing. Faktor-faktor ini ditengarai memicu tingginya volatilitas indeks belakangan ini.
Meskipun demikian, area oversold ini diyakini bisa menjadi momentum pembalikan arah jika sentimen global membaik dan aliran modal asing kembali mengalir masuk. Sebagai catatan, pada awal Mei 2026, BRI Danareksa Sekuritas sempat memproyeksikan indeks mampu menguji target resistance 7.100 hingga 7.160 berkat dorongan rilis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang positif.