IHSG 26 Mei 2026 Diproyeksikan Bergerak Sideways di Level 6.214

IHSG 26 Mei 2026 Diproyeksikan Bergerak Sideways di Level 6.214

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diproyeksikan bergerak mendatar atau sideways pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Pergerakan ini dibayangi oleh derasnya aksi jual investor asing di tengah sentimen kebangkitan pasar regional.

Dilansir dari Suara, IHSG sempat dibuka melemah ke posisi 6.201 pada perdagangan sebelumnya, 25 Mei 2026. Namun, indeks domestik langsung berbalik arah dan bangkit sebesar 0,13 persen menuju level 6.214.

Aktivitas pasar modal pada waktu tersebut mencatatkan volume perdagangan mencapai 1,69 miliar saham. Nilai transaksi yang dibukukan sebesar Rp915,3 miliar dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 121.000 kali.

Dalam dinamika pasar tersebut, sebanyak 355 saham mencatatkan kenaikan harga dan 171 saham mengalami penurunan. Sementara itu, terdapat 433 saham yang posisinya tidak bergerak atau stagnan.

Samuel Sekuritas dalam riset hariannya menjelaskan bahwa fluktuasi indeks domestik masih tertahan oleh sentimen pelepasan aset oleh pemodal internasional. Faktor ini menjadi penahan utama bagi penguatan indeks lebih lanjut.

"Hari ini, kami memperkirakan IHSG bergerak sideways, didukung oleh market rebound, meskipun net sell asing masih menjadi key overhang," tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya, dikutip Selasa (26/6/2026).

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG sebenarnya mampu menguat 0,7 persen ke level 6.206. Di sisi lain, bursa saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada pembukaan pagi.

Indeks KOSPI di Korea Selatan melesat tajam sebesar 3,16 persen, sedangkan indeks Nikkei di Jepang menyusut 0,27 persen. Sementara itu, pasar saham Wall Street di Amerika Serikat tutup karena peringatan Memorial Day.

Pergerakan Komoditas dan Kurs Rupiah

Dari sektor komoditas, harga minyak mentah jenis Brent mengalami koreksi mendalam sebesar 7,2 persen ke level USD96 per barel. Sebaliknya, harga emas dunia melonjak 1,4 persen menjadi USD4.571 per troy ounce.

Kondisi pasar modal juga beriringan dengan penguatan mata uang domestik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat menguat sebesar 0,2 persen ke posisi Rp17.743 per dolar AS.

Investor asing tercatat banyak mengincar saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Merdeka Copper Gold Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk. Sebaliknya, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Bumi Resources Tbk menjadi yang paling banyak dilepas.

Selain faktor makro, pasar juga mencermati aksi korporasi emiten. Mulai dari mundurnya komisaris utama PT Pyridam Farma Tbk yang bersiap menggelar rights issue, proyek PSEL China oleh PT Sarana Inti Sinergi Tbk, hingga ekspansi ekosistem AI oleh PT Aviana Sinar Abadi Tbk.

Artikel terkait

Rekomendasi