Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bergerak fluktuatif namun berhasil berbalik arah ke zona hijau pada Jumat pagi. Dilansir dari Suara, indeks sempat dibuka melemah ke posisi 6.112 sebelum akhirnya melonjak sebesar 0,29 persen menuju level 6.147 pada pukul 09.05 WIB.
Aktivitas pasar modal mencatatkan volume perdagangan mencapai 5,29 miliar saham. Total nilai transaksi yang dibukukan berada di angka Rp3,17 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 186.300 kali.
Pergerakan harga saham di papan bursa menunjukkan dinamika yang cukup ketat. Sebanyak 248 saham terpantau mengalami kenaikan, 294 saham bergerak turun, sementara 417 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Jajaran saham yang menempati posisi Top Gainers pada periode tersebut meliputi BREN, CUAN, BHAT, RSGK, dan OMRE. Sebaliknya, barisan saham yang masuk kategori Top Loser terdiri atas UNIC, ASPR, TAMA, TALF, dan JGLE.
Pergerakan indeks saham domestik diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi untuk perdagangan ini. Investor disarankan mengantisipasi fluktuasi jangka pendek yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta rebalancing indeks MSCI global.
Berdasarkan riset pasar dari BRI Danareksa Sekuritas melalui publikasi SAPA Mentari, IHSG secara teknikal berpeluang melanjutkan tren konsolidasi yang cenderung melemah. Rentang pergerakan indeks diperkirakan berada di sekitar area resistance level 6.240 dan support level 6.060.
Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari perdagangan Kamis (28/5/2026), ketika IHSG ditutup merosot 1,23 persen ke level 6.130. Penurunan tersebut didorong oleh maraknya aksi ambil untung terhadap saham komoditas dan emiten berkapitalisasi besar.
Tekanan di pasar reguler juga diperberat oleh kelanjutan aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai Rp1,89 triliun. Faktor ini menjadi beban tambahan bagi pergerakan indeks sepanjang hari sebelumnya.
Sentimen Mata Uang dan Pasar Global
Laju penguatan pasar saham domestik masih tertahan oleh meluasnya koreksi harga. Riset dari BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa kenaikan beruntun pada saham-saham Grup Barito Pacific belum mampu meredam tekanan koreksi tersebut.
Fokus perhatian pelaku pasar kini tertuju pada nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi mendekati angka Rp16.800 per dolar Amerika Serikat. Situasi ini dinilai memiliki risiko tinggi memicu keluarnya modal asing dalam skala yang lebih besar.
"Pelaku pasar juga akan mencermati tekanan nilai tukar rupiah yang telah mendekati level 16.800 per dolar AS, sehingga berisiko mendorong capital outflow lebih lanjut," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Selain faktor kurs, penyesuaian portofolio oleh investor institusi global terkait implementasi rebalancing MSCI pada penutupan perdagangan berpotensi menaikkan volatilitas pasar. Di sisi lain, bursa global memberikan sinyal positif setelah indeks utama Wall Street ditutup menguat.
Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat naik 0,049 persen ke level 50.668,97, diikuti S&P 500 yang menguat 0,58 persen ke posisi 7.563,63, serta Nasdaq Composite yang melaju 0,91 persen ke level 26.917,47. Menghadapi kondisi pasar saat ini, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi saham PT Hartadinata Abadi Tbk (EMAS) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) untuk dicermati.