Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperlihatkan pergerakan yang fluktuatif pada akhir pekan. Seperti dilansir dari Medcom, pasar saham domestik sempat tertekan ke zona merah saat pembukaan sebelum akhirnya berhasil membalikkan arah dan bergerak menguat.
Berdasarkan data RTI hingga pukul 09.20 WIB pada Jumat, 29 Mei 2026, IHSG sempat menyentuh level terendah di posisi 6.112,770. Namun, indeks segera bangkit dengan mencatatkan kenaikan sebesar 60,871 poin atau sekitar 0,99 persen ke level 6.191,061.
Pergerakan indeks saham pada pagi ini berada dalam rentang yang cukup dinamis. Level tertinggi yang berhasil disentuh berada di angka 6.191, sementara titik terendahnya tercatat pada posisi 6.111.
Aktivitas perdagangan di bursa domestik didominasi oleh performa positif dari mayoritas saham yang ditransaksikan. Sebanyak 282 saham terpantau mengalami penguatan harga, sedangkan 275 saham melemah, dan 178 saham lainnya tidak bergerak dari posisi semula.
Volume perdagangan saham yang berputar di pasar modal pagi ini mencapai 8,807 miliar lembar saham. Nilai total transaksi dari keseluruhan pertukaran tersebut menyentuh angka Rp5,609 triliun.
Laju IHSG kali ini mendapatkan sokongan dari zona global, terutama setelah bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada sesi sebelumnya. Performa hijau di Wall Street tersebut memberikan dampak psikologis yang positif bagi pasar keuangan dunia.
Indeks Dow Jones Industrial Average di bursa AS menguat tipis 0,049 persen ke posisi 50.668,97. Kenaikan juga diikuti oleh indeks S&P 500 yang tumbuh 0,58 persen ke level 7.563,63, serta Nasdaq Composite yang melonjak hingga 0,91 persen menjadi 26.917,47.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pasar domestik pada hari sebelumnya yang menderita koreksi cukup dalam. IHSG ditutup melemah sebesar -1,23 persen menuju level 6.130 dengan catatan aksi jual bersih oleh investor asing mencapai Rp -1,89 triliun di pasar reguler.
"Pelemahan IHSG terjadi di tengah meningkatnya aksi profit taking dan tekanan pada sejumlah saham big caps serta saham komoditas," kata Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas, Jumat, 29 Mei 2026.
Secara teknikal, pergerakan indeks saham domestik diperkirakan masih berpotensi masuk ke dalam fase konsolidasi yang melemah. Area batas atas atau resistance diproyeksikan berada pada level 6.240, sementara batas bawah atau support berada di angka 6.060.
Investor saat ini tengah mengamati dengan cermat laju nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga mendekati angka Rp16.800 per USD. Situasi mata uang domestik ini dikhawatirkan dapat memicu terjadinya aliran modal keluar atau capital outflow yang lebih besar.
Faktor lain yang turut menjadi perhatian besar adalah pemberlakuan efektif rebalancing indeks MSCI pada penutupan perdagangan hari ini. Perubahan komposisi tersebut diprediksi dapat memicu kenaikan volatilitas pergerakan pasar saham dalam jangka pendek.