Pasar saham Indonesia mengawali perdagangan dengan tekanan besar yang cukup signifikan. Berdasarkan data RTI Business, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka anjlok sebesar 3,12 persen atau merosot 185,3 poin ke level 5.755,678 pada Kamis, 4 Juni 2026 pukul 09.28 WIB.
Kejatuhan ini memperpanjang tren penurunan yang dialami pasar modal dalam beberapa hari terakhir, seperti dikutip dari Info. Pada awal sesi pagi, indeks bergerak pada rentang 5.749,341 hingga 5.924,508 dengan nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia mencapai Rp10.129 triliun.
Zona merah mendominasi pergerakan instrumen ekuitas dengan 573 saham melemah, berbanding terbalik dengan 70 saham yang menguat dan 80 saham bergerak stagnan. Aktivitas transaksi terpantau tinggi dengan volume perpindahan mencapai 7 miliar saham senilai Rp3,9 triliun melalui 474.733 kali transaksi.
Penurunan tajam pada pembukaan ini melanjutkan performa buruk dari perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, saat indeks ditutup melemah 4,11 persen menuju posisi 5.941,07. Analisis dari Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa faktor utama tekanan berasal dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 0,71 persen ke kisaran Rp17.966.
Selain masalah kurs, lonjakan harga minyak mentah global turut menambah kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi kenaikan inflasi. Kondisi ini dikhawatirkan memicu Bank Indonesia untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat melalui kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Secara teknikal, analis memperkirakan apabila indeks ditutup di bawah level 5.900, pergerakan selanjutnya akan menguji area support baru. Kisaran penting yang kini menjadi perhatian investor untuk menentukan arah pasar berada di rentang 5.750 hingga 5.840.
Sentimen Korporasi dan Kebijakan Ekspor
Pasar juga sedang mencermati peringkat terbaru untuk PT Danantara Investment Management (DIM). Lembaga Moody’s menyematkan peringkat Baa2 dengan prospek negatif, setara dengan peringkat utang pemerintah Indonesia yang mencerminkan kedekatan hubungan kedua pihak.
Sementara itu, S&P Global Ratings menetapkan peringkat jangka panjang BBB dengan prospek stabil, dan Fitch Ratings memberikan peringkat BBB untuk program obligasi global DIM. Langkah pemeringkatan ini menjadi indikator penting bagi penilaian risiko korporasi di mata pelaku pasar global.
Di sisi komoditas, sentimen negatif datang dari pembatasan perdagangan batu bara akibat kebijakan sentralisasi ekspor melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Sejumlah importir asal Tiongkok dikabarkan menunda pembelian karena ketidakjelasan mekanisme harga, proses transaksi, dan skema kontrak pada sistem baru tersebut.