Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengawali pekan pertama Mei dengan performa yang meyakinkan. Berdasarkan data perdagangan Senin pagi, 4 Mei 2026, indeks terpantau melonjak hingga 32,12 poin.
Kenaikan tersebut setara dengan penguatan sekitar 0,46 persen yang membawa IHSG ke posisi 6.988,92 pada pembukaan sesi. Dilansir dari Suara, pergerakan positif ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar yang memantau arah kebijakan moneter.
Sentimen global menjadi motor penggerak utama, terutama terkait de-eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Kabar mengenai proposal perdamaian baru yang dimediasi melalui Pakistan memberikan harapan bagi stabilitas diplomatik.
Kondisi ini langsung memicu penurunan harga minyak mentah di pasar global. Bagi Indonesia sebagai negara importir minyak, pelandaian harga energi tersebut secara historis menjadi katalisator positif bagi kinerja pasar saham domestik.
Meski menguat, investor tetap bersikap selektif sambil mencermati indikator ekonomi makro dari Negeri Paman Sam. Fokus utama tertuju pada rilis data tenaga kerja dan indeks sektor jasa ISM sebagai prediktor kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memberikan pandangannya mengenai fokus pasar saat ini.
"Dari data ekonomi, investor akan mencermati data tenaga kerja AS dan data sektor jasa ISM (Institute for Supply Management)," kata Ratna Lim.
Dari dalam negeri, pasar sedang mengantisipasi banjir data ekonomi nasional yang dijadwalkan rilis sepanjang pekan ini. Kalender ekonomi mencatat adanya pengumuman indeks manufaktur (PMI), neraca perdagangan, hingga angka inflasi terbaru.
Selanjutnya, fokus akan beralih pada rilis Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026 yang dijadwalkan pada 5 Mei besok. Angka pertumbuhan ekonomi ini akan menjadi ukuran ketangguhan daya beli masyarakat menghadapi tekanan inflasi global.
Isu disiplin fiskal juga menjadi perhatian menyusul laporan realisasi APBN 2026 hingga akhir Maret. Defisit tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap PDB, meningkat dari periode yang sama tahun lalu di level 0,43 persen.
Kenaikan belanja negara sebesar 31,4 persen menjadi penyebab pelebaran defisit tersebut. Total belanja tercatat menyentuh angka Rp815 triliun, sementara pendapatan negara terkumpul sebesar Rp574,9 triliun hingga akhir Maret.
"Investor akan mencermati perkembangan realisasi APBN 2026 ini di tengah kekhawatiran akan disiplin fiskal dan dampaknya terhadap ekonomi," jelas Ratna.
Secara teknikal, posisi IHSG saat ini dinilai sangat krusial. Jika mampu bertahan secara konsisten di atas level psikologis 7.000, terbuka peluang bagi indeks untuk melanjutkan reli menuju rentang 7.020 hingga 7.150 dalam waktu dekat.
Namun, risiko koreksi tetap membayangi jika tekanan jual meningkat. Area dukungan (support) diprediksi berada pada rentang 6.750 hingga 6.850 apabila pasar merespons negatif data tenaga kerja AS atau kekhawatiran fiskal domestik.