IHSG Pekan Raya 8 Juni 2026 Anjlok ke Level 5.486 pada Pembukaan Pagi

IHSG Pekan Raya 8 Juni 2026 Anjlok ke Level 5.486 pada Pembukaan Pagi

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia kembali tertekan pada awal pekan. Dikutip dari Suara, indeks saham domestik ini langsung merosot ke level 5.486 saat perdagangan dibuka pada Senin, 8 Juni 2026.

Koreksi yang dialami IHSG terus memburuk seiring berjalannya waktu perdagangan. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan, indeks jatuh hingga 3,26 persen menuju level 5.412 pada pukul 09.05 WIB.

Aktivitas pasar modal mencatat volume perdagangan mencapai 2,57 miliar saham. Total nilai transaksi yang dibukukan berada pada angka Rp 1,98 triliun dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 188.500 kali.

Kondisi pasar didominasi oleh pergerakan negatif, di mana 572 saham terkoreksi dan 331 saham stagnan. Sementara itu, hanya 56 saham yang mampu menguat di tengah tekanan jual.

Barisan saham yang menempati posisi Top Gainers meliputi GMTD, SULI, NASI, TRIN, dan CTBN. Di sisi lain, saham GPSO, SUPA, WEHA, APLI, dan BEER masuk dalam jajaran Top Loser.

Faktor domestik dan eksternal dinilai menjadi pemicu utama fluktuasi indeks. Pelemahan nilai tukar rupiah serta aksi pelepasan aset oleh pemodal asing masih membayangi pergerakan pasar saham.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memberikan proyeksi bahwa pergerakan indeks akan mengalami koreksi secara terbatas. Level support diprediksi berada pada angka 5.360, sedangkan posisi resistance di target 5.865.

"Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih menunjukkan tren pelemahan, sementara Relative Strength Index (RSI) berada di area oversold yang mengindikasikan peluang terjadinya rebound teknikal meskipun tekanan pasar saham masih cukup kuat," katanya dalam analisis, Senin (8/6/2026).

Oktavianus Audi menambahkan bahwa volume transaksi penjualan mulai mereda. Hal ini terjadi setelah aksi jual bersih oleh investor asing menyentuh angka Rp 7,39 triliun pada pekan sebelumnya.

"Sentimen pertama berasal dari keberlanjutan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah menembus level Rp 18.035 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) yang berada di level 100," katanya.

Kekhawatiran pelaku pasar juga tertuju pada kelangsungan penurunan nilai mata uang Garuda ini. Dampak yang lebih luas terhadap sektor keuangan dikhawatirkan muncul jika depresiasi rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

Faktor lain yang dinantikan investor adalah publikasi posisi cadangan devisa Indonesia untuk periode Mei 2026. Tren penurunan cadangan devisa sejak awal tahun berisiko memicu sentimen negatif baru di pasar domestik.

Meski demikian, penguatan harga pada beberapa komoditas global dapat menjadi angin segar bagi emiten sektor pertambangan. Harga batu bara kini bertengger di level 148,7 dolar AS per ton, dan komoditas nikel menyentuh 18.575 dolar AS per ton.

Berdasarkan indikator teknikal tersebut, Kiwoom Sekuritas menyarankan strategi speculative buy untuk saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) pada support 458 dan target resistance 585. Rekomendasi serupa diberikan untuk PT Hartadinata Abadi Tbk (EMAS) dengan batas support 6.950 serta resistance 8.250.

Artikel terkait

Rekomendasi