Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat sejak awal pembukaan perdagangan hingga pertengahan hari. Data bursa menunjukkan indeks saham domestik ini terus bergerak melemah dan tertahan di zona merah.
Dikutip dari Detik Finance, IHSG anjlok hingga 202,97 poin atau merosot 3,08 persen ke posisi 6.396,26 pada penutupan sesi I siang ini. Sepanjang paruh pertama perdagangan, indeks sempat menyentuh titik tertinggi di 6.635,12 dan terendah pada level 6.376,34.
Kondisi pasar didominasi oleh koreksi massal dengan 611 saham melemah, sementara hanya 96 saham yang menguat, dan 107 saham lainnya bergerak stagnan. Aktivitas transaksi mencatat volume perdagangan mencapai 27,96 milar saham dengan nilai turnover Rp 15,13 triliun serta frekuensi sebanyak 1.731.057 kali.
Penurunan tajam ini memperparah kinerja indeks yang sudah menyusut 3,08 persen dalam sepekan terakhir. Jika dihitung dalam jangka waktu lebih panjang, IHSG terkoreksi 16,07 persen dalam sebulan, melemah 21,20 persen dalam 6 bulan, serta jatuh 26,03 persen secara year to date, meski masih tumbuh 2,14 persen dibanding tahun lalu.
Aksi jual oleh pemodal internasional menjadi pemicu utama setelah dana asing senilai Rp 5,86 triliun keluar dari pasar. Pelepasan aset terbesar terjadi pada saham CUAN milik Prajogo Pangestu sebesar Rp 96,7 miliar, diikuti BBCA Rp 94,9 miliar, BREN Rp 70,4 milar, dan DSSA dari Grup Sinarmas sebesar Rp 70 miliar.
Pergerakan indeks di lantai bursa diperkirakan masih akan berfluktuasi secara dinamis. Proyeksi dari analis pasar modal memperkirakan rentang pergerakan hari ini berada di kisaran level 6.550 hingga 6.700.
Koreksi beruntun selama 5 hari terakhir di dalam negeri menjadi faktor pemberat, ditambah hengkangnya modal asing dari pasar reguler senilai Rp 460 milar pada perdagangan sebelumnya. Tekanan makin nyata setelah nilai tukar rupiah spot sempat menyentuh level psikologis baru di angka Rp 17.700 per dolar AS.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih dalam risetnya menjelaskan beberapa langkah penyelamatan moneter yang sedang berjalan.
"Namun, BI telah melakukan 7 langkah intervensi rupiah, di antaranya aktif di pasar valas, peningkatan yield SRBI 6,21-6,45% tenor 6 bulan hingga 12 bulan (13/5/2026) total posisi SRBI melesat ke Rp 957,91 triliun (30/4/2026), pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian dolar AS maksimal US$ 25 ribu, menjaga likuiditas perbankan, penguatan intervensi di pasar offshore (NDF), serta peningkatan pengawasan aktivitas perbankan dan korporasi (Mulai 1 Juni 2026, mewajibkan maksimal 50% DHE SDA disimpan selama 12 bulan ke Bank Himbara dan dikonversikan ke rupiah (kecuali sektor minyak dan gas dengan penempatan 3 bulan). Pekan ini, pasar menanti rilis suku bunga BI-Rate yang diproyeksikan naik 25 bps untuk menjaga rupiah," tulisnya.Kondisi eksternal dari bursa global turut memberikan sentimen negatif seiring melemahnya Wall Street secara terbatas, di mana Nasdaq turun 0,51 persen dan S&P 500 minus 0,07 persen. Pelaku pasar kini berfokus pada rilis laporan keuangan Nvidia (NVDA) untuk mengukur kekuatan kelanjutan tren investasi berbasis kecerdasan buatan.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda juga ikut memengaruhi psikologis investor global. Rencana penundaan serangan oleh Presiden Trump dan penyesuaian proposal damai antara AS dan Iran memicu koreksi harga minyak Brent sebesar 2,18 persen menjadi USD 109 per barel.