Pasar saham Indonesia yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) masih mengalami tekanan hebat. Dikutip dari Investasi, indeks merosot tajam sebesar 4,52 persen menuju level 5.342,13 pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026). Jika dihitung sejak awal tahun, akumulasi pelemahan indeks domestik ini telah mencapai 38,22 persen.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menilai pergerakan IHSG pada posisi sekarang sudah masuk dalam kondisi jenuh jual atau oversold. Secara historis, potensi koreksi lanjutan diperkirakan masih terbuka namun akan bergerak terbatas.
Batasan penurunan jangka pendek diproyeksikan berada pada rentang area 5.100 hingga 5.200. Risiko pelemahan ini dapat tertahan kecuali jika muncul eskalasi konflik baru antara Amerika Serikat dan Iran atau terjadi penurunan tajam kembali pada bursa global.
"Volatilitas sangat tinggi. Level seperti 5.300–5.400 lebih cocok diperlakukan sebagai area trading buy secara bertahap, bukan all-in, dengan disiplin cut loss dan fokus di saham berfundamental kuat serta likuid atau big caps yang terkena jual panik," kata Rully kepada Kontan, Senin (8/6/2026).
Rully turut memberikan pandangan mengenai dinamika pasar sekiranya aliran dana pemodal asing terus keluar dan menyisakan pemodal domestik sebagai penopang. Menurutnya, konsep indeks tanpa partisipasi asing kurang tepat karena investor mancanegara akan tetap aktif bertransaksi dalam porsi berapa pun.
"Jadi pertanyaannya bukan ‘IHSG tanpa asing itu berapa’, melainkan di level berapa valuasi kita cukup menarik sehingga investor domestik dan asing sama-sama mulai melihat Indonesia sebagai buy lagi," ucap Rully.
Meskipun tingkat valuasi saham dalam negeri dinilai sudah cukup atraktif, minat beli para pemodal masih tertahan. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya ketidakpastian seputar arah kebijakan domestik saat ini.
Para pelaku pasar modal kini sedang mencermati kombinasi berbagai faktor makro yang berisiko memengaruhi laju perekonomian serta stabilitas sektor keuangan. Faktor-faktor tersebut mencakup kapasitas pemerintah dalam mengendalikan defisit anggaran negara serta pemenuhan kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, pelaku pasar juga memantau sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Kejelasan mengenai langkah reformasi pasar modal di tengah rencana perombakan regulasi dan kelembagaan juga menjadi perhatian serius.
"Semua itu wajar menimbulkan pertanyaan di kalangan investor, apalagi di tengah gejolak global," tambah Rully.
Di sisi lain, terdapat indikasi positif dari upaya peningkatan koordinasi yang lebih erat antara otoritas moneter dan otoritas fiskal. Keselarasan komunikasi dinilai mampu membalikkan sentimen pasar menjadi lebih baik.
"Kalau komunikasi kebijakan bisa dibuat lebih konsisten dan forward looking, sebagian besar policy uncertainty ini justru bisa berubah menjadi katalis positif ke depan," tutupnya.