IHSG Ambles 2,72 Persen Pimpin Pelemahan Bursa Saham Asia

IHSG Ambles 2,72 Persen Pimpin Pelemahan Bursa Saham Asia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tajam dan menjadi salah satu indeks dengan penurunan terdalam di Asia. Berdasarkan data perdagangan pada Senin pagi, 18 Mei 2026, dikutip dari Medcom, IHSG merosot 182,98 poin atau menyusut 2,72 persen ke posisi 6.540,34.

Tren negatif ini turut menyeret sejumlah indeks likuid lain di pasar modal domestik. Indeks LQ45 mengalami penurunan sebesar 2,94 persen, sementara indeks IDX30 melemah sebesar 2,48 persen.

Sejumlah saham terpantau langsung tertekan dan masuk dalam jajaran top losers pada pembukaan perdagangan. Saham-saham tersebut meliputi AMMN, MDKA, BREN, INCO, dan MBMA.

Situasi ini melanjutkan tren kurang menggembirakan dari akhir pekan lalu. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG terkoreksi 1,98 persen menuju level 6.723,32 dengan sektor bahan baku anjlok hingga 4,43 persen, walaupun sektor transportasi sempat tumbuh 4,89 persen.

Langkah IHSG di zona merah sejalan dengan kondisi mayoritas bursa utama di kawasan Asia yang bergerak variatif cenderung tertekan. Indeks Hang Seng di Hong Kong melemah 1,41 persen ke level 25.595,50, dan indeks Nikkei 225 di Jepang terpangkas 1,01 persen menjadi 60.789,50.

Pelemahan juga menjalar ke Asia Tenggara, di mana indeks SET Thailand melemah 1,38 persen ke posisi 1.517,95. Selanjutnya, indeks PSEi Composite Filipina mengalami koreksi 0,57 persen, serta pasar saham Vietnam turun tipis 0,37 persen.

Kendati demikian, beberapa bursa saham di Asia masih sanggup bertahan di zona hijau. Indeks Shanghai Composite China menguat tipis 0,05 persen ke level 4.137,49, sedangkan indeks KOSPI Korea Selatan melonjak signifikan sebesar 1,71 persen.

Kombinasi kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi global, penguatan mata uang dolar AS, serta ketidakpastian arah suku bunga bank sentral global menjadi pemicu mundurnya para investor dari aset berisiko di Asia.

Sentimen Global dari Wall Street dan Pasar Eropa

Sentimen negatif regional ini tidak lepas dari koreksi yang terjadi di pasar global pada akhir pekan. Wall Street ditutup kompak melemah dengan indeks Dow Jones Industrial Average merosot 537,3 poin atau 1,07 persen ke level 49.526, Nasdaq anjlok 1,54 persen, dan S&P 500 berkurang 1,24 persen.

Koreksi di bursa AS dipicu oleh penurunan saham sektor teknologi serta lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield obligasi AS tenor 10 tahun merangkak naik ke 4,595 persen, sementara tenor 30 tahun menembus 5,128 persen, yang memicu indeks volatilitas VIX melonjak 6,78 persen ke posisi 18,43.

Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang minim terobosan kebijakan baru semakin menambah ketidakpastian dagang. Kondisi ini menekan pasar Eropa, membuat indeks FTSE Inggris turun 1,71 persen, DAX Jerman anjlok 2,07 persen, dan CAC Prancis terpangkas 1,60 persen.

Gejolak Harga Minyak dan Komoditas Dunia

Di tengah kepanikan pasar ekuitas, harga minyak dunia justru melesat akibat kekhawatiran pasokan. Minyak mentah jenis WTI naik tajam 4,2 persen menjadi USD105,42 per barel, dan Brent terkerek 3,35 persen ke posisi USD109,26 per barel.

Kenaikan harga energi ini ikut mengerek harga batu bara Newcastle untuk kontrak Mei hingga Agustus 2026. Sebaliknya, aset aman seperti emas terkoreksi dalam dengan emas Comex turun 2,63 persen dan emas spot melemah 2,41 persen.

Sektor komoditas logam juga didominasi pelemahan, di mana harga timah jatuh lebih dari 4 persen, nikel merosot 2,3 persen, dan aluminium turun 2,44 persen. Namun, harga tembaga masih mampu menguat 2,38 persen ditopang optimisme permintaan industri.

Pada sektor agrikomoditas, crude palm oil (CPO) kontrak Juli di Bursa Malaysia naik tipis 0,45 persen. Sebaliknya, harga komoditas pangan seperti gandum dan jagung masing-masing melemah sebesar 3,38 persen dan 2,51 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi