Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026). Seperti diberitakan oleh Money, indeks jatuh sebesar 3,54 persen atau berkurang 224 poin, yang membuatnya bertengger di posisi 6.094,941.
Kemerosotan ini membawa indeks saham domestik menembus ke bawah batas psikologis 6.100. Kondisi pasar terpantau didominasi oleh tekanan jual yang masif, di mana investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell dengan total nilai mencapai Rp 508 miliar.
Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi target pelepasan terbesar oleh investor asing dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp 204 miliar.
Tekanan jual juga melanda saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Investor asing melepas saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 146 billion dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai Rp 142 miliar.
Komoditas cetak keluar lainnya juga melanda saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan catatan net sell Rp 135 miliar, diikuti saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 120 miliar.
Kendati demikian, aliran modal asing terpantau masih masuk ke sektor komoditas dan energi. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin aksi beli bersih atau net buy asing dengan torehan nilai mencapai Rp 204 miliar.
Sektor energi lainnya yang juga diminati meliputi saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan net buy Rp 173 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) senilai Rp 88 miliar, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar Rp 63 miliar.
Selain itu, investor asing juga mengoleksi saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dengan nilai beli bersih tercatat sebesar Rp 60 miliar.
Sepanjang sesi perdagangan hari Kamis, pergerakan IHSG terus tertekan setelah sempat menguat ke posisi tertinggi di level 6.378,811. Namun, indeks kemudian merosot hingga menyentuh titik terendah pada level 6.080,954.
Koreksi pasar terjadi secara merata di hampir seluruh sektor. Hal ini ditunjukkan oleh data di mana sebanyak 663 saham bergerak melemah, sedangkan saham yang menguat hanya 88 saham, dan 69 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan mencatatkan nilai transaksi total Rp 17,737 triliun. Adapun volume saham yang ditransaksikan mencapai 35,176 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2,13 juta kali.
Akibat penurunan tajam ini, nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia ikut menyusut menjadi Rp 10.576 triliun.
Perkembangan Bursa Saham Kawasan Asia
Di tingkat regional, performa bursa saham Asia bergerak secara variatif. Beberapa indeks utama di sejumlah negara mencatatkan lonjakan besar, meskipun pasar saham Hong Kong dan China terpuruk di zona merah.
Indeks Nikkei 225 di Jepang ditutup melesat tinggi sebesar 3,14 persen, naik 1.879,73 poin ke level 61.684,14. Kenaikan luar biasa juga terjadi pada indeks Kospi Korea Selatan yang melonjak 8,42 persen atau 606,64 poin ke level 7.815,59.
Selanjutnya, indeks Taiwan Weighted ikut mengalami penguatan signifikan sebesar 3,37 persen atau bertambah 1.347,39 poin ke posisi 41.368,21.
Sebaliknya, pelemahan melanda pasar saham China di mana indeks Shanghai Composite melemah 2,04 persen atau turun 84,908 poin ke level 4.077,277. Indeks Shenzhen Component juga terkoreksi 2,07 persen menjadi 15.247,27 setelah kehilangan 322,709 poin.
Kondisi serupa dialami indeks Hang Seng Hong Kong yang jatuh 1,03 persen atau berkurang 264,60 poin menuju level 25.386,52.
Sementara itu, indeks Straits Times Singapura ditutup hampir tidak bergerak dengan penurunan tipis 0,01 persen ke level 5.044,54. Bursa Malaysia turut melemah 0,37 persen sehingga indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI parkir di level 1.711,39. Di sisi lain, indeks Nifty 50 India stagnan dengan kenaikan tipis 0,01 persen ke posisi 23.660,90.