IHSG Ambruk 4,97 Persen Dipicu Sentimen Danantara dan Rupiah

IHSG Ambruk 4,97 Persen Dipicu Sentimen Danantara dan Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam hingga hampir menyentuh angka 5 persen pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Aksi jual besar-besaran oleh para investor memicu kejatuhan ini secara tiba-tiba.

Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari Suara pada pukul 11.54 WIB, indeks saham domestik tersebut anjlok sebesar 4,97 persen. Koreksi mendalam ini membawa IHSG mendarat ke level 5.887, padahal sempat bergerak menguat pada awal pembukaan pasar.

Analisis dari Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa runtuhnya papan saham dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Mulai dari perkembangan lembaga Danantara, pelemahan mata uang lokal, lonjakan harga komoditas energi global, hingga kecemasan atas evaluasi berkala oleh MSCI.

Faktor utama yang memicu respons negatif pasar adalah langkah Moody's Ratings terhadap Danantara Investment Management. Lembaga pemeringkat internasional tersebut menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook yang condong negatif.

Kondisi ini diperparah oleh performa mata uang Garuda yang tidak berdaya di hadapan mata uang asing.

"Selain itu, nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda melemah hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS)," tulis Phintraco Sekuritas seperti dikutip, Rabu (3/6/2026).

Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia

Depresiasi nilai tukar rupiah berkaitan erat dengan kembali melambungnya harga minyak di pasar internasional. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi membengkaknya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta meningkatnya laju inflasi nasional.

Belum tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi motor penggerak utama naiknya harga minyak dunia saat ini.

Kondisi ini memicu kekhawatiran baru lantaran inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 tercatat merangkak naik ke posisi 3,08 persen secara year on year (YoY).

Angka inflasi tersebut sebenarnya masih berada di dalam sasaran target Bank Indonesia, yaitu pada rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. Namun, pasar mengkhawatirkan tekanan harga akan semakin berat apabila komoditas minyak terus bertahan di level tinggi.

"Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, dikhawatirkan inflasi akan kembali meningkat. Sehingga potensi kenaikan BI Rate masih terbuka di tengah potensi kenaikan inflasi dan berlanjutnya depresiasi Rupiah. Tren kenaikan suku bunga berpotensi menjadi sentimen negatif bagi bursa saham," tulis Phintraco.

Menanti Keputusan Evaluasi MSCI

Di samping persoalan makroekonomi, perhatian investor saat ini juga tersita oleh agenda krusial dari MSCI. Lembaga indeks global tersebut dijadwalkan menerbitkan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review pada sekitar 18 Juni 2026 dan MSCI 2026 Annual Market Classification Review pada sekitar 23 Juni 2026.

Hasil pengumuman dari MSCI dinilai sangat vital karena menjadi barometer penilaian akses pasar bagi para pemodal internasional. Penilaian ini juga yang menentukan apakah posisi pasar modal Indonesia tetap bertahan sebagai emerging market atau justru mengalami pergeseran klasifikasi.

Pelaku pasar sejauh ini masih bersikap menunggu hasil peninjauan reformasi pasar saham dalam negeri. MSCI sebelumnya sempat menyoroti persoalan likuiditas pada sejumlah emiten serta transparansi mengenai kepemilikan saham di bursa Indonesia.

Lembaga tersebut bahkan membuka peluang untuk mengkaji ulang posisi klasifikasi pasar modal Indonesia. MSCI sendiri telah mengambil langkah untuk memperpanjang durasi masa pemantauan ini sejak April 2026 lalu hingga Juni 2026 sebelum mengeluarkan keputusan final.

Artikel terkait

Rekomendasi