IHSG Ambruk 3,46 Persen ke Level 6.370 di Tengah Redanya Tensi Geopolitik

IHSG Ambruk 3,46 Persen ke Level 6.370 di Tengah Redanya Tensi Geopolitik

Pasar modal Indonesia kembali mengalami tekanan besar hingga menyebabkan Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) anjlok signifikan. Seperti diberitakan oleh Money, indeks saham domestik tersebut terperosok sebesar 3,46 persen dan mendarat di posisi 6.370.

Kemerosotan tajam ini menempatkan IHSG sebagai salah satu indeks dengan kinerja paling buruk di kawasan Asia. Padahal, situasi di bursa regional sebagian besar terpantau bergerak stabil dan beberapa di antaranya bahkan mampu menguat.

Kondisi pasar saham dalam negeri saat ini dinilai mencerminkan mulai rapuhnya kepercayaan investor pada prospek ekonomi dan stabilitas keuangan nasional dalam jangka pendek. Faktor pemicu utamanya bukan lagi sekadar sentimen dari luar negeri.

Padahal, gejolak di pasar global sebenarnya mulai mereda setelah ada penundaan rencana aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran oleh Presiden Donald Trump demi membuka jalur dialog. Langkah ini sempat menurunkan kekhawatiran global terkait pasokan minyak.

Dampaknya, pasar saham Eropa mulai bergerak positif, bursa Asia Pasifik cenderung stabil, dan imbal hasil obligasi global ikut melandai. Namun, pergerakan IHSG justru menunjukkan arah yang berlawanan dari tren dunia tersebut.

“Ini menandakan bahwa pasar Indonesia sedang menghadapi tekanan domestik yang jauh lebih dominan dibanding sentimen global,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Selasa malam (19/5/2026).

Koreksi pada IHSG terhitung sangat dalam karena melanda hampir seluruh sektor saham secara merata. Sektor industri dasar atau basic industry menjadi yang paling parah setelah merosot hingga 7,30 persen.

Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar raksasa menjadi sasaran aksi jual masif oleh para investor. Beberapa di antaranya meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).

Aktivitas pelepasan saham secara agresif tersebut menjadi indikasi kuat adanya strategi pengurangan risiko dalam skala besar. Aksi ini utamanya dilakukan oleh kelompok investor institusi maupun pemodal asing.

Di sisi lain, saham yang bergerak di sektor energi dan komoditas ikut tertekan seiring melemahnya harga minyak dunia serta meningkatnya kecemasan akan pelambatan ekonomi global. Hanya sektor kesehatan yang sanggup bertahan di zona hijau karena sifatnya yang defensif.

Selain pergerakan saham, nilai tukar rupiah yang terus merosot kini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar. Mata uang Garuda diketahui melemah hingga menyentuh angka Rp 17.706 per dollar AS.

Penurunan nilai tukar ini tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi barang impor. Situasi tersebut juga berisiko memperberat beban utang luar negeri sektor korporasi serta meningkatkan risiko fiskal bagi pemerintah.

Kombinasi antara pelemahan mata uang lokal dan keluarnya dana asing secara masif dari pasar modal berpotensi melipatgandakan tekanan pada IHSG. Oleh karena itu, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator krusial bagi pasar.

Kini, perhatian para pelaku pasar tertuju pada jalannya sidang paripurna DPR pada Rabu (20/5/2026). Investor menantikan pidato Presiden Prabowo Subianto terkait arah kebijakan ekonomi nasional.

Pasar sedang menunggu kepastian mengenai strategi pengelolaan fiskal, langkah konkret untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, serta respons pemerintah terhadap gejolak di sektor keuangan yang kian membesar.

Apabila pidato tersebut memuat kejelasan kebijakan dan disiplin anggaran yang kuat, sentimen pelaku pasar diproyeksikan bisa membaik. Kondisi ini dapat membuka peluang bagi IHSG untuk mengalami technical rebound.

Namun, jika langkah nyata untuk memulihkan kepercayaan pemodal tidak segera terlihat, tekanan jual di pasar domestik berisiko berlanjut. Secara teknikal, level 6.300 kini menjadi batas support psikologis yang sangat krusial.

Jika level support tersebut tidak jebol, IHSG masih memiliki peluang untuk bangkit menuju rentang 6.500 hingga 6.535. Sebaliknya, jika menembus ke bawah batas itu, pasar dikhawatirkan masuk ke dalam fase krisis kepercayaan jangka pendek.

“Pasar saat ini tidak hanya membutuhkan sentimen positif, tetapi juga membutuhkan kepercayaan. Ketika global mulai mereda namun IHSG tetap runtuh, artinya investor sedang menunggu kepastian arah ekonomi Indonesia ke depan,” beber Hendra.

“Besok pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah,” lanjut dia.

Artikel terkait

Rekomendasi