Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam hingga lebih dari 4 persen dalam kurun waktu sekitar 1,5 jam perdagangan, seperti diberitakan oleh Money. Penurunan ini membuat posisi indeks mendekati ambang penghentian sementara perdagangan atau trading halt oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Data dari BEI menunjukkan bahwa posisi IHSG berada di level 6.434,28 atau melemah 289,04 poin yang setara dengan 4,30 persen. Indeks sempat dibuka pada level 6.628,98 dan mencapai posisi tertinggi di 6.631,28, sedangkan level terendahnya menyentuh 6.425,95.
Dominasi tekanan jual sudah terlihat sejak awal sesi perdagangan. Volume transaksi tercatat mencapai 16,18 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,538 triliun, serta frekuensi perdagangan yang menembus 1,405 juta kali.
Kondisi pasar menunjukkan pergerakan yang tidak seimbang dengan hanya 68 saham yang menguat, sementara 720 saham melemah dan sisanya bergerak stagnan. Seluruh sektor saham terkoreksi ke zona merah dengan pelemahan paling dalam dialami sektor material dasar yang jatuh sekitar 9 persen.
Sektor energi, industri, consumer primer, keuangan, infrastruktur, dan transportasi juga ikut merosot lebih dari 4 persen. Indeks saham utama lain seperti LQ45 turun 3,39 persen ke level 635,59, dan KOMPAS100 melemah 4,40 persen ke posisi 853,95, diikuti penurunan pada indeks syariah JII serta ISSI.
Kemerosotan yang terjadi secara signifikan ini membuat pelaku pasar mulai mengantisipasi potensi pemberlakuan trading halt oleh otoritas bursa. Kebijakan ini merupakan langkah penghentian perdagangan sementara ketika indeks jatuh hingga batasan tertentu dalam satu hari.
Langkah penangguhan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar modal, memberikan perlindungan bagi investor, serta memastikan penyebaran informasi berjalan adil dalam kondisi volatilitas tinggi. Berdasarkan regulasi, trading halt diaktifkan jika penurunan IHSG melebihi 5 persen dalam sehari.
Saham Big Caps dan Sentimen Indeks Global Jadi Penekan
Kejatuhan indeks dipicu oleh penurunan harga saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama emiten yang terpengaruh oleh penyesuaian indeks global. Beberapa di antaranya meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Tekanan jual juga melanda saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), hingga PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM). Sektor perbankan kakap seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tidak luput dari pelemahan.
Kondisi ini diperberat oleh sentimen negatif sejak akhir pekan lalu setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes. Saham tersebut adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), di samping penghapusan 13 saham dari MSCI Global Small Cap Indexes yang berlaku per 1 Juni 2026.
Sentimen negatif bertambah setelah FTSE Russell memberikan peringatan mengenai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC). Dalam evaluasi Juni 2026, FTSE Russell akan menghapus saham terdampak HSC dengan nilai nol mulai 22 Juni 2026 demi menjaga integritas indeks dan mitigasi risiko likuiditas bagi investor institusi.
FTSE Russell juga memutuskan menunda re-ranking indeks secara penuh, peningkatan free float, serta penambahan emiten baru hingga evaluasi September 2026. Rangkaian kebijakan ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi arus modal asing yang keluar dari pasar saham domestik.