Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam sebesar 1,98 persen atau berkurang 136 poin ke posisi 6.723,320 pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026). Penurunan signifikan ini dipicu oleh dominasi tekanan jual yang dilakukan oleh investor asing di pasar modal Indonesia.
Aksi jual bersih atau net sell oleh investor luar negeri mencapai Rp 1,34 triliun sebagaimana dilaporkan oleh bursa saham, dilansir dari Money. Saham-saham perbankan dengan kapitalisasi besar menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh pemodal internasional tersebut.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan penjualan bersih terbesar senilai Rp 274 miliar. Posisi tersebut diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 140 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp 124 miliar.
Selain ketiga emiten tersebut, investor asing terpantau melepas saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 92 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sejumlah Rp 63 miliar. Sepanjang hari ini, indeks terus bergerak di zona merah setelah sempat dibuka pada level 6.763,945.
Kondisi pasar menunjukkan 416 saham berakhir melemah, sementara hanya 239 saham yang menguat dan 163 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi harian di bursa tercatat mencapai Rp 19,793 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 38,947 miliar saham.
Pelemahan ini berkaitan erat dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks global mereka. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa penyesuaian komposisi indeks tersebut memicu reaksi dari para manajer investasi.
"Hemat saya outflow pasti juga terjadi. Biasanya kalau fund manager yang mereferensikan MSCI standard tentu akan terpaksa menjual saham tersebut untuk menyesuaikan dengan komposisi indeks terbaru," ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Nafan menambahkan bahwa situasi ini berpotensi memberikan tekanan tambahan pada harga saham-saham terkait serta berdampak pada nilai tukar mata uang dalam periode yang singkat.
"Tapi hal ini juga bisa menekan saham-saham tersebut yang keluar maupun juga rupiah dalam jangka pendek. Tapi di jangka pendek ya hemat saya demikian," paparnya Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Dampak penghapusan saham dari indeks MSCI juga disoroti oleh Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim. Ia memproyeksikan adanya aliran dana keluar yang cukup masif dari para pengelola dana pasif.
"Tentunya hal ini akan membuat outflow dari pengelola dana pasif, yang membuat tekanan besar pada saham yang masuk deletion dengan potensi Rp 22 triliun," pungkas Ahmad Faris Mu’tashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia.
Faris menyatakan bahwa emiten yang didepak tidak memenuhi kriteria terbaru MSCI, terutama terkait dengan aturan free float dan daftar HSC. Hal ini diprediksi akan membuat IHSG terus bergerak lemah dengan target batas bawah tertentu.
"Hal ini membuat IHSG akan mengalami pelemahan dengan target support secara teknikal berada di area 6.300-6.600," lanjutnya Ahmad Faris Mu’tashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia.
Beberapa aturan baru mengenai likuiditas saham menjadi alasan utama di balik penghapusan emiten-emiten tersebut dari daftar indeks bergengsi tersebut.
"Beberapa regulasi mengenai free float baru, dan HSC list menjadi rules terbaru untuk inklusi selanjutnya tidak dipenuhi oleh emiten yang mengalami deletion," kata Ahmad Faris Mu’tashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia.
Perubahan komposisi indeks MSCI ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026, setelah penutupan perdagangan di tanggal 29 Mei 2026.