Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada pembukaan perdagangan Senin (18/5/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari Money, indeks langsung terpuruk sebesar 224,790 poin atau setara 3,34 persen ke level 6.498,529.
Pada awal sesi, indeks sebenarnya dibuka pada posisi 6.628,976 dan sempat menguat ke titik tertinggi di level 6.631,282. Namun, tekanan jual yang sangat masif di pasar modal membuat pergerakan IHSG terus merosot hingga menyentuh angka terendah di level 6.496,493.
Koreksi ini memperpanjang tren negatif dari pekan sebelumnya yang menjadi salah satu periode paling berat bagi pasar saham domestik sepanjang tahun ini. IHSG ditutup melemah signifikan ke posisi 6.723 akibat kombinasi tekanan dari sentimen global serta domestik.
Kondisi pasar saat ini tidak lagi didominasi oleh isu penilaian harga emiten atau kinerja keuangan semata. Fokus utama para pelaku pasar kini beralih pada langkah investor global yang sedang melakukan penataan ulang portofolio mereka.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengonfirmasi bahwa langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi pemicu utama. Penghapusan beberapa saham berkapitalisasi besar dari Global Standard Index mendorong peningkatan aksi jual di pasar saham dalam negeri.
“Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” ujar Imam.
Menurut analisisnya, para penanam modal asing sengaja mengambil langkah penyesuaian portofolio lebih cepat. Tindakan ini dilakukan sebelum tanggal efektif pemberlakuan bobot baru pada akhir Mei 2026, sehingga memicu gelombang aliran dana keluar yang agresif.
Kondisi pasar domestik kian tertekan oleh situasi makroekonomi global yang belum stabil. Ket ketatnya tingkat inflasi di Amerika Serikat membuat pasar kembali bersiap menghadapi kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Harapan pelaku pasar mengenai penurunan suku bunga acuan oleh The Fed kini kembali bergeser mundur. Sebagian investor bahkan mulai memperhitungkan skenario adanya kenaikan suku bunga tambahan dari bank sentral AS pada akhir tahun mendatang.
“Situasi ini membuat dollar AS terus menguat dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp 17.520 per dollar AS,” paparnya.
Faktor geopolitik di Timur Tengah dan gangguan logistik energi di Selat Hormuz turut memperkeruh keadaan dengan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia melampaui 105 dollar AS per barel. Meski demikian, dinamika ini memicu rotasi sektoral yang dinilai cukup menarik di pasar saham.
Sektor energi menjadi wilayah yang menderita koreksi paling dalam akibat penghapusan emiten seperti DSSA dan BREN dari indeks MSCI. Kedua saham tersebut diperkirakan menghadapi arus keluar dana pasif hingga bernilai triliunan rupiah.
Walakin, penurunan di sektor energi dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor teknis pergerakan harga saham ketimbang penurunan performa fundamental dari komoditasnya sendiri.
Sebaliknya, sektor transportasi justru berhasil mencatatkan kinerja di atas rata-rata pasar. Lonjakan signifikan terjadi pada saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) setelah melakukan divestasi anak usaha kepada grup Prajogo Pangestu.
“Pergerakan ini menunjukkan bahwa di tengah market-wide correction, pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki corporate action dan katalis spesifik yang jelas,” beber dia.
Di pasar komoditas, ketegangan politik dunia tetap menjadi penggerak utama. Harga minyak mentah terus merangkak naik karena kekhawatiran minimnya pasokan dunia, sementara harga batu bara tetap kokoh karena peralihan konsumsi energi di Asia dari LNG ke batu bara.
Situasi pasokan energi tersebut masih memberikan dampak positif bagi kinerja emiten pertambangan batu bara di dalam negeri.
Di sisi lain, harga komoditas emas mulai menghadapi aksi ambil untung setelah ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed memudar. Sementara untuk komoditas nikel, penurunan harga dipengaruhi oleh tingginya jumlah stok global serta aksi ambil untung sesaat.
Dari kebijakan domestik, keputusan pemerintah untuk menunda penerapan kenaikan royalti minerba menjadi angin segar bagi emiten tambang serta pengelola fasilitas pemurnian. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga stabilitas margin keuntungan di tengah gejolak pasar global.
Data pergerakan modal sepekan lalu mengindikasikan bahwa investor asing tidak sepenuhnya menarik dana dari pasar modal Indonesia. Investor global cenderung melakukan strategi rotasi aset secara lebih ketat dan selektif.
Aksi jual bersih asing senilai Rp 3,21 triliun sebagian besar berpusat pada saham-saham perbankan besar serta emiten yang terkena dampak penghapusan indeks MSCI. Namun, saham defensif berkinerja stabil seperti ADRO, TLKM, dan INKP justru tetap mencatatkan aliran modal masuk.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa para pemodal internasional sedang menerapkan strategi pengamanan aset ke instrumen yang lebih berkualitas di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Untuk periode perdagangan 18-22 Mei 2026, perhatian utama pasar akan tertuju penuh pada proses eksekusi penataan ulang indeks MSCI menjelang tanggal efektif pada 29 Mei 2026. Tingkat volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama saat sesi penutupan perdagangan yang menjadi waktu utama penyesuaian portofolio reksa dana pasif global.
Kendati terdapat risiko aliran dana keluar, situasi ini membuka peluang masuknya investasi pada emiten yang berpotensi mengalami peningkatan bobot nilai. Beberapa saham yang berpeluang menerima aliran dana masuk antara lain BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, serta TOWR.
Pasar juga sedang mencermati peluang perubahan status Korea Selatan oleh MSCI dari pasar berkembang menjadi pasar maju. Perubahan status ini dalam jangka menengah diperkirakan dapat mengalihkan sebagian alokasi dana global menuju pasar berkembang lainnya, termasuk Indonesia.
Berikut adalah beberapa rekomendasi saham pilihan dari IPOT untuk aktivitas perdagangan selama sepekan ke depan:
Buy PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Entry: 214
Target Price (TP): 242
Stop Loss (SL): di bawah 200
BUMI dapat dijadikan sebagai pilihan utama untuk memanfaatkan tren kenaikan harga komoditas batu bara serta peluang pembalikan arah teknis. Perusahaan ini berpeluang mendapatkan limpahan modal seiring potensi naiknya bobot indeks serta sensitivitasnya terhadap harga energi dunia.
Buy PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA)
Entry: 384
Target Price (TP): 384
Stop Loss (SL): di bawah 342
MINA dinilai prospektif seiring kenaikan angka kunjungan turis asing ke Indonesia sebesar 10,5 persen secara tahunan pada Maret 2026, dengan total mencapai 3,44 juta kunjungan sepanjang kuartal pertama. Peningkatan arus pelancong dari Malaysia, Australia, dan China berpotensi mendongkrak sektor perhotelan serta konsumsi gaya hidup.
Buy PT RMK Energy Tbk (RMKE)
Entry: 3.300
Target Price (TP): 3.650
Stop Loss (SL): di bawah 3.110
RMKE berpotensi memetik keuntungan dari aturan baru Gubernur Sumatera yang mewajibkan pengangkutan batu bara menggunakan jalur logistik khusus dan kereta api. Regulasi ini memperkuat posisi RMKE yang telah memiliki infrastruktur logistik batu bara terintegrasi dari stasiun pemuatan hingga pelabuhan.
Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC)
Entry: 806
Target Price (TP): 854
Stop Loss (SL): di bawah 783
Produk reksa dana ETF XIIC memiliki portofolio yang terdiversifikasi pada saham sektor konsumsi domestik sebagai pilar ekonomi nasional. XIIC memperlihatkan sinyal pembentukan landasan teknis yang kuat setelah bergerak mendatar dalam beberapa pekan terakhir, menahan tekanan jual pasca koreksi tajam sejak Maret 2026.
Berdasarkan indikator momentum, grafik MACD juga mulai menunjukkan pola bullish divergence, di mana garis indikator membentuk titik terendah yang lebih tinggi secara bertahap sementara harga bergerak mendatar.