IHSG Anjlok 5,31 Persen Dipicu Kekhawatiran Transparansi Pasar Modal

IHSG Anjlok 5,31 Persen Dipicu Kekhawatiran Transparansi Pasar Modal

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan tajam sebesar 5,31 persen atau turun 442,44 poin ke level 7.887,16 hingga penutupan perdagangan sesi I pada Senin, 2 Februari 2026. Penurunan signifikan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.

Sebagaimana dilansir dari Katanetizen, tekanan jual meluas pada mayoritas sektor, terutama saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini dipicu oleh peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai aspek investability dan transparansi di pasar modal domestik, yang kemudian berdampak pada perubahan rekomendasi sejumlah institusi keuangan dunia.

Lembaga investasi Nomura telah menurunkan peringkat saham Indonesia dari posisi overweight menjadi netral. Keputusan ini mengikuti langkah Goldman Sachs dan UBS yang lebih dulu memangkas eksposur mereka terhadap pasar saham Indonesia sejak akhir Januari 2026.

Strategis dari Nomura menyampaikan bahwa peringatan yang dikeluarkan oleh MSCI tersebut merupakan sesuatu yang tidak terduga bagi pihak investor.

"peringatan MSCI datang di luar perkiraan." kata Chetan Seth, Strategis Nomura.

Ia menambahkan bahwa sebelumnya Indonesia dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang stabil dan valuasi yang menarik. Namun, faktor ketidakpastian regulasi kini membuat investor global cenderung lebih waspada dalam menempatkan modal mereka.

Merespons situasi pasar tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) segera menyiapkan langkah percepatan reformasi. Program bertajuk Bold and Ambitious Reforms dicanangkan untuk memperkuat integritas pasar dan meningkatkan batasan saham publik.

Pj Ketua Dewan Komisioner OJK mengumumkan inisiatif tersebut pada Minggu, 1 Februari 2026, sebagai bentuk komitmen perbaikan struktural.

"Bold and Ambitious Reforms." ujar Friderica Widyasari Dewi, Pj Ketua Dewan Komisioner OJK.

Kebijakan tersebut mencakup penyesuaian aturan free float menjadi minimal 15 persen serta penekanan pada transparansi Ultimate Beneficial Ownership (UBO). Langkah-langkah ini diambil untuk meminimalkan potensi penyalahgunaan serta memperjelas struktur kepemilikan saham emiten.

Selain faktor internal, sentimen eksternal dari Amerika Serikat turut memperberat laju indeks melalui penguatan dolar AS. Penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Gubernur The Federal Reserve memicu ekspektasi pasar bahwa penurunan suku bunga acuan AS akan berjalan lebih lambat dari perkiraan semula.

Pemerintah Indonesia sendiri tetap memandang fundamental ekonomi nasional masih dalam kondisi solid. Indikator makroekonomi menunjukkan inflasi berada pada level 2,92 persen dengan cadangan devisa mencapai US$156,5 miliar dan pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap di atas 5 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi