Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dengan ditutup anjlok sebesar 2,86 persen atau turun 204,92 poin ke posisi 6.969,39 pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Penurunan signifikan ini dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik global di Selat Hormuz serta berlanjutnya tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan indeks komposit bergerak fluktuatif di rentang 6.969 hingga 7.186 sepanjang hari ini, sebagaimana dilansir dari Market. Kondisi pasar modal Indonesia ini sejalan dengan tren negatif yang melanda mayoritas bursa regional di Asia akibat ketidakpastian situasi keamanan dunia.
Analisis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di jalur maritim strategis menjadi faktor utama yang mengguncang kepercayaan investor. Ketegangan tersebut melibatkan kekuatan militer kedua negara di kawasan Timur Tengah.
"Konflik di jalur strategis tersebut memicu kekhawatiran terhadap risiko geopolitik. Tiga kapal perusak Angkatan Laut AS dilaporkan mencegat serangan Iran dan melakukan serangan balasan," tulis riset Pilarmas Investindo Sekuritas, Jumat (8/5/2026).
Selain ketegangan di Timur Tengah, pelaku pasar juga mencermati prospek hubungan dagang antara AS dan China yang masih diliputi ketidakpastian. Meskipun terdapat rencana pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pekan depan, para pejabat China dilaporkan ragu untuk memulai dialog sebelum situasi di Selat Hormuz mereda.
Dari faktor internal, rilis data cadangan devisa periode April menunjukkan adanya penurunan yang menambah beban bagi sentimen investor domestik. Berkurangnya cadangan devisa ini terjadi secara bersamaan dengan tren depresiasi rupiah yang terus berlanjut di tengah penguatan dolar AS.
Statistik perdagangan mencatat sebanyak 575 saham mengalami koreksi harga, sementara hanya 133 saham yang berhasil menguat, dan 108 saham lainnya stagnan. Total kapitalisasi pasar di BEI kini berada pada angka Rp12.431 triliun.
Penurunan indeks terutama didorong oleh anjloknya harga saham-saham berkapitalisasi besar. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) mencatatkan penurunan terdalam sebesar 14,94 persen ke level Rp1.310 per saham.
Koreksi tajam juga dialami oleh emiten besar lainnya seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang merosot 11,83 persen ke posisi Rp4.100. Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) turut melemah 9,27 persen menjadi Rp4.210 per saham.
| Nama Emiten | Kode | Perubahan (%) | Harga Penutupan |
|---|---|---|---|
| Dian Swastatika Sentosa | DSSA | -14,94% | Rp1.310 |
| Barito Renewables Energy | BREN | -11,83% | Rp4.100 |
| Amman Mineral Internasional | AMMN | -9,27% | Rp4.210 |
| Megapower Makmur | MPOW | +34,55% | - |
| Hetzer Medical Indonesia | MEDS | +34,18% | - |