IHSG Anjlok 30 Persen Investor Domestik Mulai Buru Saham Murah

IHSG Anjlok 30 Persen Investor Domestik Mulai Buru Saham Murah

Peluang masuknya aksi beli selektif dari investor domestik mulai terbuka setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga hampir 30 persen sepanjang tahun berjalan (YTD). Seperti dilansir dari Money, tekanan jual besar-besaran dan keluarnya dana asing membuat sejumlah saham kini berada di level valuasi yang sangat murah atau deeply undervalued.

Kondisi IHSG saat ini dinilai sudah berada dalam posisi extremely oversold atau jenuh jual ekstrem setelah mengalami tekanan tajam. Indikator Relative Strength Index (RSI) juga mulai menunjukkan positive divergence sesudah indeks berhasil menguji target wave 5/A alt.

Situasi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan pelemahan indeks mulai terbatas. Selain itu, peluang terjadinya technical rebound secara bertahap kini mulai terbuka bagi pasar saham Indonesia.

"IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold dan menunjukkan positive divergence berdasarkan indikator RSI setelah berhasil menguji target “wave 5 / A alt.”. Diharapkan fase pelemahan terbatas mulai terjadi," ujar Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, Jumat (22/5/2026).

Kejatuhan indeks pada perdagangan sebelumnya membuat banyak saham diperdagangkan pada harga diskon akibat aksi panic selling. Penurunan ini berpotensi memicu minat beli selektif dari investor institusi domestik seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi untuk melakukan akumulasi bertahap atau bottom fishing.

"Berbagai saham yang berada di level valuasi yang sangat murah atau deeply undervalued, sehingga kondisi ini berpotensi memicu minat beli selektif dari investor institusi domestic, baik dana pensiun dan Asuransi, untuk melakukan akumulasi bertahap atau bottom fishing, dengan memanfaatkan harga diskon pasca-panic selling," paparnya.

Para pelaku pasar saat ini tengah mencermati dinamika geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sebagai sentimen utama. Pasar merespons laporan mengenai draf akhir perjanjian perdamaian AS-Iran yang tercapai melalui bantuan mediator Pakistan.

Perjanjian tersebut mencakup poin penting seperti gencatan senjata segera di semua front dan jaminan kebebasan navigasi di Teluk serta Selat Hormuz. Selain itu, negosiasi mengenai isu-isu yang belum terselesaikan dijadwalkan mulai dalam waktu satu minggu.

Sementara dari dalam negeri, rilis data transaksi berjalan pada kuartal I-2026 menjadi fokus perhatian karena diprediksikan hanya mengalami defisit sebesar 0,8 miliar dollar AS. Perkiraan ini mengindikasikan pasokan valas dari hasil ekspor barang Indonesia masih kokoh menahan beban impor dan pembayaran jasa eksternal.

Data tersebut memberikan sinyal kepada dunia bahwa ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap tangguh menghadapi volatilitas harga komoditas global. Jika rilis data riil dari Bank Indonesia sesuai dengan prediksi, hal ini akan menjadi katalis fundamental kuat untuk meredam kepanikan pasar.

Pada perdagangan Jumat (22/5/2026), pergerakan IHSG diperkirakan memiliki area support di level 6.081-5.815. Sementara itu, posisi resistance indeks berada di kisaran 6.347-6.511.

Artikel terkait

Rekomendasi