Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam sebesar 3,54 persen ke posisi 6.094 pada penutupan perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Tekanan jual masif di seluruh sektor menjadi penyebab utama kejatuhan indeks bursa domestik tersebut, seperti dilansir dari Suara.
Kondisi pasar diperparah oleh penurunan nilai tukar rupiah sebesar 0,07 persen yang membuat mata uang tersebut mendarat di level Rp17.667 per dolar AS. Berdasarkan data perdagangan, sebanyak 700 saham mengalami pelemahan, sedangkan 91 saham bergerak naik, dan 168 saham lainnya stagnan.
Volume perdagangan hari ini mencapai 33,81 juta saham yang berputar dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,12 juta kali. Adapun total nilai transaksi yang tercatat di bursa secara keseluruhan membukukan angka sebesar Rp18,47 triliun.
Riset Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa kejatuhan terdalam dialami oleh sektor energi sebesar 6,91 persen akibat penurunan harga minyak mentah. Sentimen ekspor CPO dan batu bara melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia serta isu kenaikan suku bunga Bank Indonesia juga turut menekan sektor perbankan dan pertambangan.
"Pelemahan dipicu oleh turunnya harga minyak mentah dan kebijakan Menteri ESDM yang memerintahkan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas untuk segera menyerahkan hak partisipasi sebesar 10 persen kepada pemerintah daerah," tulis Phintraco Sekuritas.
Isu margin call yang melibatkan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ikut memperburuk kondisi psikologis pasar secara keseluruhan. Secara teknikal, pergerakan indeks berhasil menutup gap pada area 6.092 meski tetap rawan terhadap koreksi lanjutan.
"Support kuat berikutnya berada di level 5.882," tulis Phintraco Sekuritas.
Aksi jual yang terus berlanjut berisiko membawa indeks menguji level psikologis baru di angka 6.000. Emiten berkode SOTS, BOBA, ENAK, APLI, dan KOBX menjadi saham dengan kenaikan terbesar, sedangkan BUKK, IRSX, ENRG, POLU, dan RAJA mencatatkan penurunan terdalam.