Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga menembus ke bawah level psikologis 7.000 pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026). Dilansir dari Money, pelemahan signifikan ini terjadi setelah indeks domestik sempat mencatatkan penguatan selama empat hari berturut-turut pada awal Mei.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan indeks berakhir di level 6.969,396 setelah merosot 204,925 poin atau setara 2,86 persen. Meski mengalami tekanan besar pada akhir pekan, secara akumulatif mingguan IHSG masih bertahan di zona positif dengan kenaikan tipis sebesar 0,18 persen.
Kondisi pasar didominasi oleh pergerakan negatif dengan 575 saham melemah dan hanya 133 saham yang berhasil menguat, sementara sisanya tidak bergerak. Aktivitas perdagangan terpantau sangat dinamis dengan volume transaksi mencapai 55,96 miliar saham dan nilai transaksi menembus Rp 35,88 triliun.
Hampir seluruh sektor di bursa berakhir di zona merah, di mana sektor barang baku mencatatkan koreksi paling dalam hingga 7,80 persen. Penurunan tajam juga melanda sektor transportasi sebesar 5,72 persen, sektor energi 4,59 persen, serta sektor perindustrian yang turun 4,55 persen.
Sektor-sektor lain seperti barang konsumen nonprimer, properti, barang konsumen primer, teknologi, dan keuangan juga mengalami pelemahan dengan rentang antara 1,48 hingga 3,39 persen. Sebaliknya, sektor kesehatan muncul sebagai satu-satunya sektor yang menguat dengan kenaikan sebesar 0,70 persen.
Di tengah kejatuhan indeks, investor asing terpantau melakukan aksi borong terhadap saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip. Aksi beli bersih (net buy) oleh pemodal mancanegara tercatat mencapai Rp 11,42 triliun hanya pada perdagangan hari Jumat tersebut.
Fokus utama pembelian investor asing tertuju pada saham-saham di sektor perbankan, telekomunikasi, konsumsi, dan komoditas. Kendati demikian, dalam hitungan satu minggu, investor asing masih membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 641,75 miliar di seluruh pasar modal Indonesia.