IHSG Anjlok 5 Persen Sentuh Level Terendah Sejak Desember 2020

IHSG Anjlok 5 Persen Sentuh Level Terendah Sejak Desember 2020

Pasar modal Indonesia mengalami tekanan jual masif yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok sebesar 5 persen hingga menyentuh level 5.644,23 pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pukul 09.57 WIB. Kemerosotan tajam dari posisi penutupan sebelumnya di level 5.941,07 ini membawa indeks acuan ke posisi terendah sejak 1 Desember 2020.

Kondisi penurunan berkelanjutan tersebut merefleksikan valuasi agregat pasar yang kini setara dengan era ketidakpastian pandemi COVID-19. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, akumulasi sentimen makroekonomi dan institusional menjadi pemicu utama koreksi lanjutan pada indeks acuan bursa domestik.

Penurunan prospek Danantara Investment Management pada hari sebelumnya terus menekan preferensi risiko investor institusional secara signifikan. Tekanan di pasar ekuitas ini diperparah oleh depresiasi nilai tukar Rupiah yang telah menembus level psikologis baru di angka Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat.

Pelemahan mata uang nasional tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar atas potensi lonjakan beban operasional emiten dengan kewajiban valuta asing yang besar. Di sisi lain, bursa saham berada pada fase krusial karena pelaku pasar mengantisipasi publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings yang rumornya telah memicu aksi jual massal.

Volatilitas pasar modal juga didorong oleh sikap antisipatif para pemodal menjelang dua agenda penting dari lembaga penyedia indeks global, MSCI. Lembaga tersebut dijadwalkan merilis Market Accessibility Review pada 19 Juni dan Classification Review pada 24 Juni.

Risiko penyesuaian evaluasi dan klasifikasi dari MSCI mendorong investor asing mempercepat langkah mitigasi dengan mengurangi eksposur aset berisiko di Indonesia. Sejak pandemi Covid-19, bursa domestik mencatat empat periode gejolak hebat, yakni pandemi 2020-2021, perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022, awal perang dagang pada April 2025, dan krisis tahun ini.

Catatan CNBC Indonesia menunjukkan bahwa jarak antara periode sebelum bergejolak dibandingkan titik terendah pada tahun ini merupakan yang paling buruk dengan selisih mencapai 3.000 basis poin.

Artikel terkait

Rekomendasi