IHSG Anjlok 1,98 Persen Imbas Rebalancing Indeks MSCI

IHSG Anjlok 1,98 Persen Imbas Rebalancing Indeks MSCI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada level 6.723,32 dalam perdagangan Rabu (13/5/2026) sebagai respons pasar terhadap pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penurunan tajam ini tercatat sebesar 135,58 poin atau 1,98 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir dari Money menunjukkan indeks bergerak fluktuatif di rentang 6.705,43 hingga 6.787,35 sepanjang hari. Aktivitas perdagangan melibatkan volume transaksi sebanyak 36,59 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 19,31 triliun.

Kondisi pasar didominasi oleh koreksi massal dengan 428 saham melemah, berbanding terbalik dengan 260 saham yang menguat dan 271 saham stagnan. Kapitalisasi pasar di bursa tercatat berada di level Rp 11,825 triliun pada penutupan sesi.

Hampir seluruh sektor industri mengalami tekanan, di mana sektor barang baku anjlok paling dalam sebesar 4,43 persen dan sektor infrastruktur terkoreksi 2,72 persen. Sebaliknya, hanya sektor transportasi dan industri yang mampu bertahan di zona hijau masing-masing dengan kenaikan 4,89 persen dan 1,26 persen.

Co Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, memberikan penjelasan mengenai fenomena penghapusan beberapa emiten Indonesia dari daftar indeks global tersebut. Menurutnya, perubahan ini tidak berkaitan dengan kinerja fundamental perusahaan yang bersangkutan.

“Perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut,” ujar Hans Kwee, Co Founder PasarDana.

Hans menambahkan bahwa para pengelola dana sebenarnya telah memperkirakan langkah MSCI ini sejak beberapa bulan lalu. Ia memprediksi pergerakan portofolio akan terus berlanjut hingga akhir Mei mendatang.

“Selain itu banyak pelaku pasar dan fund manager sudah mengantisipasi penghapusan saham tersebut oleh MSCI dalam beberapa bulan terakhir. Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI,” paparnya Hans Kwee, Co Founder PasarDana.

Meskipun terjadi volatilitas tinggi, Hans menilai situasi ini merupakan kesempatan bagi investor untuk melakukan akumulasi saham. Penurunan harga yang terjadi dinilai sebagai anomali akibat kepanikan pasar sesaat.

“Di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa oleh fund manager pasif,” tutur Hans Kwee, Co Founder PasarDana.

Lebih lanjut, transparansi dan pengawasan dari otoritas seperti OJK serta BEI dianggap krusial untuk meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia di mata dunia. Langkah ini diperlukan agar bursa domestik dapat menarik minat investor global secara konsisten.

“Transparansi kini menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk mengikuti jejak sukses India. Dalam hal ini, peran OJK dan SRO sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi guna memastikan pasar yang lebih adil,” lanjut Hans Kwee, Co Founder PasarDana.

Indeks lokal lainnya turut terseret ke zona merah, termasuk indeks LQ45 yang turun 1,79 persen dan Jakarta Islamic Index (JII) yang merosot 2,59 persen pada akhir perdagangan.

Artikel terkait

Rekomendasi