IHSG Merosot ke Level 6.969 Akibat Rencana Kenaikan Royalti Minerba

IHSG Merosot ke Level 6.969 Akibat Rencana Kenaikan Royalti Minerba

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi tajam sebesar 2,86 persen ke level 6.969,39 pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026) akibat tekanan jual pada sektor pertambangan logam. Berdasarkan data RTI Business yang dilansir dari Detik Finance, indeks sempat mencapai titik tertinggi di level 7.189,83 sebelum merosot pada sesi II.

Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif terkait rencana pemerintah menaikkan royalti komoditas mineral batu bara guna meningkatkan pendapatan negara. Kebijakan tersebut berdampak langsung pada emiten besar seperti PT Timah (Persero) Tbk (TINS) yang sahamnya anjlok 14,88 persen ke posisi Rp 3.490.

Kondisi serupa dialami oleh anggota holding MIND ID lainnya, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang mencatatkan penurunan harga saham sebesar 13,89 persen. Saham INCO berakhir di level Rp 5.425 per lembar setelah dibuka pada posisi Rp 6.325 pada perdagangan pagi hari.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa sektor metal mining menjadi beban utama bagi pergerakan indeks hari ini. Penurunan ini berkorelasi langsung dengan kebijakan fiskal yang sedang direncanakan pemerintah.

"IHSG juga dibebani oleh emiten-emiten berbasis metal mining setelah terdapat adanya usulan rencana menaikkan royalti minerba untuk meningkatkan penghasilan negara," ungkap Herditya.

Selain faktor domestik, ketidakpastian geopolitik global akibat konflik Amerika Serikat dan Iran turut menekan pasar modal. Hal ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar 0,28 persen ke level Rp 17.382 pada penutupan perdagangan.

"IHSG ini sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang terkoreksi di mana hal ini disebabkan oleh perundingan AS dan Iran yang belum menemukan jalan tengahnya dan kalau dilihat nilai tukar rupiah terhadap USD juga kembali melemah," terang Herditya.

Kinerja Bursa Saham Asia 8 Mei 2026
Indeks BursaNegaraPerubahan (%)Level Terakhir
Nikkei 225 (N225)Jepang-0,19%62.713,60
Hang Seng (HSI)Hong Kong-0,87%26.393,71
Shanghai Composite (SSEC)TiongkokNegatif4.179,95
Straits Times (STI)Singapura-0,41%4.921,89

Riset dari Phintraco Sekuritas menambahkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia juga memberikan sentimen negatif bagi pasar. Cadangan devisa periode April 2026 tercatat menurun menjadi US$ 146,2 miliar dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar US$ 148,2 miliar.

"Level di April 2026 ini merupakan level terendah sejak Juli 2024, namun masih mencukupi untuk 5.8 bulan impor atau 5.6 bulan impor dan pembayaran utang," terang riset Phintraco Sekuritas.

Penurunan cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah serta upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Di sisi lain, indeks harga properti kuartal I 2026 hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan, yang merupakan laju pertumbuhan paling lambat sejak tahun 2003.

Artikel terkait

Rekomendasi