Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia merosot 3,02 persen ke level 5.760,33 pada perdagangan Kamis pagi (4/6/2026) setelah pada hari sebelumnya ambles 4,11 persen ke posisi 5.941,07 akibat tekanan jual investor asing yang memicu kekhawatiran atas stabilitas pasar keuangan domestik.
Pelemahan lanjutan ini memangkas kapitalisasi pasar bursa menjadi Rp10.311 triliun, di mana pergerakan tersebut dipengaruhi oleh ambruknya Wall Street, lonjakan harga minyak Brent yang mendekati US$100 per barel, serta tren penguatan dolar AS yang menekan nilai tukar rupiah hingga menembus level 17.950 per dolar AS.
Penurunan tajam pada Rabu (3/6/2026) utamanya ditekan oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA yang turun 5,15 persen, BBRI sebesar 4,61 persen, AMMN sebesar 14,91 persen, TLKM sebesar 3,39 persen, dan BMRI sebesar 2,88 persen, dengan catatan aksi jual bersih asing mencapai Rp993,3 miliar berdasarkan data Stockbit.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa pergerakan indeks akan segera berbalik ke arah positif karena ditopang oleh fundamental ekonomi nasional yang tetap kuat.
"Saya yakin (IHSG) akan naik lagi karena fondasi ekonomi bagus," kata Purbaya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 4 Juni 2026.
Purbaya menilai fluktuasi yang terjadi saat ini hanyalah kepanikan investor jangka pendek, mengingat indikator konsumsi domestik, aktivitas publik di berbagai daerah, permintaan sektor tersier, serta realisasi penerimaan pajak per 30 April 2026 yang tumbuh 16,1 persen mencapai Rp646,3 triliun masih menunjukkan performa stabil.
"Jangan takut. Fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, nggak ada masalah," ujar Purbaya.
Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan bahwa sentimen negatif yang mendominasi pasar saat ini lebih berkaitan dengan penilaian investor global terhadap tata kelola dan pola komunikasi kebijakan pemerintah Indonesia.
"Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar Liza saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Liza menambahkan bahwa pasar mulai memperlakukan Indonesia secara berbeda dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, terlebih setelah adanya prospek negatif dari lembaga pemeringkat internasional serta rencana peninjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI dan FTSE Russell pada Juni 2026.
"Apakah Indonesia sedang memasuki fase structural de-rating? Mungkin saja, tetapi belum tentu. Nyatanya saat ini pasar terlihat mulai memperlakukan Indonesia berbeda dibanding emerging markets lain," ujar Liza.
Menurut analisis Liza, ketidakpastian ini diperparah oleh penyusutan jumlah kelas menengah, berlanjutnya aliran modal asing yang keluar, dan risiko komunikasi kepemimpinan di mata pemodal internasional.
"Menariknya, hampir seluruh berita buruk yang dapat dibayangkan investor sebenarnya sudah muncul dalam seis bulan terakhir, di antaranya rupiah melemah, foreign outflow meningkat, Moody's dan Fitch negatif, kekhawatiran terhadap S&P meningkat, serta MSCI dan FTSE melakukan review terhadap Indonesia," ujar Liza.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi adanya pertemuan dengan perwakilan Standard & Poor's (S&P) Global guna menjelaskan ketahanan fiskal dan moneter Indonesia dalam menghadapi gangguan rantai pasok serta ketegangan geopolitik dunia.
"Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Airlangga melalui akun Instagram resminya setelah menerima kunjungan S&P di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Airlangga menyampaikan kepada lembaga pemeringkat tersebut bahwa indikator makroekonomi utama seperti inflasi Mei 2026 yang berada pada angka 3,08 persen masih terkendali dan investasi tetap tumbuh lewat program hilirisasi industri.
"Inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional," katanya.
Pemerintah kini terus mengejar pelaksanaan agenda strategis termasuk penguatan ketahanan pangan dan energi guna memitigasi tekanan eksternal jangka panjang.
"Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi ekonomi Indonesia agar semakin kuat menghadapi tekanan global sekaligus mampu tumbuh lebih kompetitif dalam jangka panjang," ujar Airlangga.