Pasar keuangan domestik mengalami guncangan hebat setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok ke bawah level psikologis 6.000 bersamaan dengan merosotnya nilai tukar rupiah hingga menembus Rp18.000 per dollar AS pada perdagangan Kamis pagi, 4 Juni 2026.
Berdasarkan laporan Kompas.com, data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG langsung dibuka merosot ke level 5.919,57 dan terus tertekan hingga menyentuh titik terendah di level 5.836,42 pada jam pertama perdagangan.
Koreksi tajam ini dipicu oleh aksi jual masif di seluruh sektor saham yang dipimpin oleh penurunan sektor infrastruktur sebesar 2,69 persen dan barang baku sebesar 2,57 persen, dengan total 499 saham bergerak melemah.
Keterpurukan pasar modal juga berjalan selaras dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang menurut data Google Finance sempat menyentuh Rp18.022 per dollar AS, yang menjadi salah satu posisi terlemah dalam sejarah mata uang Garuda.
Kondisi serupa melanda saham berkapitalisasi pasar besar seperti PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA yang merosot hingga Rp5.400 per lembar, mencatatkan level terendahnya dalam periode lima tahun terakhir.
Dilansir dari investor.id, volume perdagangan saham BBCA pada Kamis pagi mencapai 84,48 juta lembar dengan nilai transaksi Rp463,75 miliyar serta membukukan aksi jual bersih atau net sell oleh investor sebesar Rp49,5 miliar.
Tekanan jual eksternal ini memperpanjang tren negatif dari hari sebelumnya, setelah pada Rabu investor asing melakukan penjualan bersih komulatif pada saham BBCA mencapai Rp686,16 miliar.
Sentimen negatif global turut memperparah keadaan lantaran mayoritas bursa saham di kawasan Asia seperti indeks Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, dan Kospi Korea Selatan kompak memerah pada perdagangan pagi ini.