Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,43 persen ke level 6.807,13 pada akhir perdagangan sesi pertama Selasa (12/5/2026) setelah sempat menguat di awal pembukaan. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh nilai tukar rupiah yang menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah di level Rp17.503 per dolar AS serta kekhawatiran pasar menjelang pengumuman rebalancing indeks MSCI.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 0,51 persen hingga pukul 09.30 WIB, sementara sektor teknologi di bursa domestik menjadi penekan terbesar dengan koreksi mencapai 5,07 persen. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, sebanyak 456 saham melemah dengan nilai transaksi mencapai Rp7,50 triliun di tengah aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp751 miliar pada hari sebelumnya.
Analis BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa pelemahan rupiah di atas level Rp17.400 menjadi beban berat bagi pasar domestik saat IHSG menguji area support krusial di kisaran 6.850–6.960. Penguatan indeks dolar AS (DXY) ke posisi 98,115 turut menekan mata uang Garuda seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
Analisis dari CGS International Sekuritas menyoroti bahwa kebijakan pemerintah terkait royalti komoditas mineral dan batu bara masih membayangi minat investor. Analis tersebut memberikan pandangan mengenai dinamika pasar saat ini.
"Sementara itu sikap hati-hati investor menjelang pengumuman rebalancing MSCI, berlanjutnya aksi jual investor asing dan pelemahan rupiah berpeluang menjadi katalis negatif," jelas analis CGS Internasional.
Di sisi lain, Ciptadana Sekuritas Asia melihat adanya peluang teknikal pada beberapa saham pilihan seperti AMRT, ICBP, PGAS, dan SMGR meski volatilitas pasar masih tinggi. Analis BRI Danareksa Sekuritas menambahkan catatan mengenai potensi pergerakan indeks ke depan.
"Selama level tersebut bertahan, peluang rebound masih terbuka, namun jika ditembus maka risiko pelemahan lanjutan akan meningkat," jelas analis BRI Danareksa.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa reformasi pasar modal tetap berjalan untuk memperkuat integritas pasar meskipun berdampak pada fluktuasi jangka pendek.
"Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain," ujar Friderica.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Jeffrey Hendrik mengakui potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global jika tidak ada emiten baru yang masuk dalam ulasan MSCI kali ini.
"Kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, dalam jangka pendek mungkin saja bobot Indonesia turun. Tetapi itu adalah short term pain untuk long term gain," ujar Jeffrey.
| Saham | Rekomendasi | Entry | Target Ambil Untung | Stop Loss |
|---|---|---|---|---|
| AMRT | Buy if Breakout | 1.500 | 1.600 | 1.450 |
| ICBP | Speculative Buy | 7.100 | 7.325 | 6.850 |
| PGAS | Buy if Breakout | 1.870 | 1.925 | 1.810 |
| SMGR | Buy if Breakout | 2.100 | 2.280 | 2.020 |
Kondisi pasar global semakin tidak menentu setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran terancam gagal akibat penolakan Teheran terhadap proposal Washington.