Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga lebih dari 4 persen ke level 5.946,67 pada sesi I perdagangan Rabu (3/6/2026) siang. Kejatuhan mendalam di bawah level psikologis 6.000 ini terjadi bersamaan dengan merosotnya nilai tukar rupiah ke rekor terlemah sepanjang sejarah.
Data perdagangan RTI Business mencatat indeks saham melemah 4,02 persen setelah sempat menguat ke level 6.213,80 pada awal pembukaan. Penurunan tajam ini menyapu bersih penguatan hari sebelumnya yang sempat naik 1,11 persen, serta mengakibatkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut menjadi kisaran Rp10.429 triliun hingga Rp10.540 triliun.
Aktivitas pasar domestik bergerak sangat volatil dengan catatan 715 saham melemah, 61 saham menguat, dan 183 saham stagnan menurut data CNBC Indonesia. Volume perdagangan mencapai 20,72 miliar saham dengan nilai transaksi menembus Rp11,76 triliun melalui 1.432.965 kali frekuensi perdagangan.
Koreksi signifikan melanda saham-saham unggulan di papan utama, termasuk indeks LQ45 yang merosot 3,81 persen. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) anjlok hingga Auto Reject Bawah (ARB) sebesar 14,96 persen ke Rp108, diikuti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang turun 11,36 persen ke Rp2.340, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 3 persen ke level Rp5.650 per saham.
Pelemahan ini memicu akumulasi penurunan IHSG secara year to date (YTD) mencapai 31,19 persen. Berdasarkan laporan Kompas.com, tekanan jual masif ini beriringan dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp64,82 triliun secara YTD, setelah hari sebelumnya juga membukukan net sell Rp1,39 triliun.
Di pasar spot, mata uang rupiah terdepresiasi hingga 0,45 persen ke level Rp17.925 per dolar Amerika Serikat (AS) berdasarkan data Refinitiv pukul 11.00 WIB. Dilansir dari Investor Daily, BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan bahwa posisi ini menjadi rekor terlemah baru (all time low) yang semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Faktor eksternal seperti tingginya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu penguatan Indeks Dolar AS (DXY) karena meningkatnya permintaan aset safe haven. Selain itu, rilis data tenaga kerja AS yang solid mengurangi ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
BRI Danareksa Sekuritas memaparkan faktor domestik ikut menekan rupiah akibat peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran bunga, pokok utang luar negeri, dan repatriasi investasi di kuartal II. Kondisi tersebut diperparah oleh menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia akibat kenaikan impor serta antisipasi pelaku pasar terhadap rebalancing FTSE Russell pada akhir Juni.
Kondisi pasar modal Indonesia ini berbanding terbalik dengan mayoritas bursa di kawasan Asia yang justru bergerak di zona hijau. Indeks Nikkei memimpin penguatan dengan kenaikan 2,91 persen, disusul oleh bursa Shenzen sebesar 2,31 persen, dan Taiwan yang menguat 2,11 persen.