Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan signifikan sebesar 32,46 persen sejak awal tahun hingga menyentuh level 5.839,78 setelah melemah 1,7 persen pada hari Kamis (4/6/2026). Penurunan tajam ini diiringi oleh aksi jual investor asing yang memicu aliran dana keluar senilai Rp56,36 triliun dari seluruh pasar.
Data pergerakan modal yang dilansir dari Investasi menunjukkan tekanan yang lebih besar terjadi di pasar reguler dengan mencatatkan aliran dana keluar mencapai Rp67,06 triliun secara year to date. Analis Samuel Sekuritas, Shim, mengungkapkan bahwa rasio Price to Earnings (P/E) IHSG per April 2026 kini berada di level 14,6x, atau telah terdiskon 20 persen dari MSCI Emerging Market dan 30 persen dari rata-rata historisnya.
"Menimbang titik terendah secara historis aa di 12,9x, valuasi saat ini bisa menjadi entry point yang menarik," ujarnya Shim, Analis Samuel Sekuritas.
Meskipun angka valuasi tergolong murah jika dibandingkan saat pandemi Covid-19 pada April 2020 yang berada di level 12,9x, modal asing dinilai masih enggan masuk ke Indonesia. Kondisi bearish ini diperparah oleh sentimen depresiasi nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS serta isu investability dari MSCI.
"Kami tidak melihat ada resolusi cepat dalam waktu yang dekat. Solusi secara struktural dan jangka panjang dibutuhkan. Kondisi ini pun menyebabkan pasar ekuitas bearish lebih lama," tutur Shim, Analis Samuel Sekuritas.
Langkah penanganan dari otoritas terkait menjadi perhatian besar bagi para pelaku pasar modal demi mengembalikan stabilitas bursa domestik. Shim menekankan pentingnya sikap netral dari regulator agar tidak memicu kekhawatiran lebih lanjut di kalangan pemodal eksternal.
"Banyak investor yang tidak suka, karena pemerintah tidak seharusnya mengintervensi pasar secara agresif," kata Shim, Analis Samuel Sekuritas.