Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam sebesar 2,44 persen ke level 6.999,11 pada perdagangan sesi kedua hari Jumat (8/5/2026). Kejatuhan indeks ini dipicu oleh eskalasi konflik militer di Selat Hormuz serta kekhawatiran pasar terhadap rencana pemerintah merombak regulasi bagi hasil sektor pertambangan.
Arus keluar modal asing meningkat setelah pecahnya bentrokan antara pasukan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk yang mengancam jalur logistik energi dunia. Selain faktor geopolitik, pelaku pasar merespons negatif wacana penerapan skema gross split atau cost recovery pada industri mineral dan batu bara (minerba).
Presiden Donald Trump melaporkan adanya serangan terhadap kapal militer mereka saat melintasi jalur krusial yang menyumbang seperlima aliran gas alam cair dunia tersebut melalui platform media sosial.
"Tiga kapal perusak kelas dunia milik Amerika baru saja berhasil melintasi Selat Hormuz meskipun berada di bawah tembakan. Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal perusak tersebut, tetapi kerusakan besar dialami para penyerang Iran," tulis Trump di Truth Social.
Ketegangan ini memperburuk kondisi pasar setelah Washington sebelumnya sedang menunggu respons Teheran terkait proposal pengakhiran konflik. Namun, Trump menyatakan bahwa upaya provokasi tersebut berhasil diredam oleh militer Amerika Serikat.
"Mereka mencoba mengganggu kami hari ini. Kami menghancurkan mereka," kata Trump di Washington.
Di sisi lain, militer Iran memberikan pernyataan yang bertolak belakang dengan menuduh pihak Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pihak Iran mengklaim serangan tersebut merupakan respons atas tindakan AS yang menargetkan kapal tanker dan wilayah sipil mereka.
Wacana perubahan regulasi domestik turut menambah tekanan bagi emiten berkapitalisasi besar di sektor energi. Pemerintah sedang mengkaji opsi penyesuaian pendapatan negara dari pengelolaan sumber daya alam yang memicu ketidakpastian bagi investor institusi terkait proyeksi arus kas dan pembagian dividen masa depan.
Penurunan tajam IHSG ini tercatat sebagai yang terdalam di kawasan Asia, di mana mayoritas bursa regional juga mengalami koreksi akibat sentimen penghindaran risiko secara agregat. Dilansir dari CNBC Indonesia, investor cenderung menarik likuiditas dari pasar negara berkembang untuk memitigasi risiko makroekonomi yang memburuk.