IHSG Anjlok 4,94 Persen ke Level 5.889 pada Perdagangan Sesi I

IHSG Anjlok 4,94 Persen ke Level 5.889 pada Perdagangan Sesi I

Pasar modal Indonesia mengalami tekanan besar setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambruk 4,94 persen ke level 5.889,48 pada penutupan sesi I perdagangan Rabu (3/6/2026). Kejatuhan indeks bursa domestik ini berbanding terbalik dengan kondisi sejumlah bursa saham di kawasan Asia yang justru bergerak di zona hijau.

Data perdagangan menunjukkan pelemahan ini membuat IHSG menembus level support krusialnya di angka 6.000 dan mencatatkan rekor terendah dalam lima tahun terakhir sejak Mei 2021. Koreksi tajam ini dipicu oleh aksi jual masif yang melanda 714 saham, sementara hanya 35 saham yang menguat dan 64 saham lainnya berjalan stagnan dengan total nilai transaksi mencapai hampir Rp15 triliun.

Dilansir dari CNBC Indonesia, kapitalisasi pasar dari sepuluh emiten terbesar di Bursa Efek Indonesia ikut menyusut drastis sebesar Rp157,22 triliun menjadi Rp3.840,05 triliun hanya dalam setengah hari perdagangan. Penurunan valuasi paling dalam dialami oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp42,06 triliun, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).

Sentimen negatif pasar diperparah oleh laporan Moody's Ratings yang menyematkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif bagi Danantara Investment Management (DIM). Selain itu, beredar rumor di bursa keuangan mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings menjadi BBB- di tengah depresiasi mata uang rupiah yang menembus Rp17.935 per dolar AS.

Pihak analis pasar modal menilai rumor penurunan peringkat kredit tersebut memicu langkah antisipatif dari para investor untuk merelokasi portofolio aset mereka.

"Pelemahan (IHSG) ini juga dipengaruhi oleh beredarnya rumor mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Ratings menjadi BBB-," papar Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya, Rabu siang.

Tekanan terhadap aliran modal asing juga dipengaruhi oleh penyusutan surplus Neraca Perdagangan Indonesia pada April 2026 menjadi US$89,1 juta karena pertumbuhan impor yang tinggi.

"Ini merupakan surplus perdagangan terkecil sepanjang 72 bowel tersebut," terang Panin.

Di sisi lain, ketidakpastian institusional juga datang dari rencana pengumuman klasifikasi dan akses pasar modal oleh lembaga indeks global pada bulan ini.

"Pasar domestik menunggu keputusan MSCI terkait hasil evaluasi reformasi pasar modal Indonesia," jelas Phintraco terhadap penyebab pelemahan IHSG yang amat dalam, Rabu.

Faktor lain yang menekan indeks adalah koreksi harga saham-saham blue chip milik konglomerasi yang sebelumnya mendorong indeks ke rekor tertinggi, serta adanya peringatan kelayakan investasi dari penyedia layanan indeks global seperti MSCI dan FTSE bagi para pemegang dana pasif.

Artikel terkait

Rekomendasi