Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam sebesar 4,94 persen hingga parkir di level 5.889 pada penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu, 3 Juni 2026, dilansir dari Suara.
Kejatuhan indeks saham domestik secara mendadak ini dipicu oleh akumulasi aksi jual besar-besaran oleh para pelaku pasar akibat sejumlah sentimen negatif eksternal dan internal.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis mengonfirmasi bahwa posisi indeks saat ini telah menembus ke bawah batas psikologis 6.000 yang mengindikasikan adanya kelanjutan tren pelemahan di pasar modal.
"Breaklow support psikologis 6000 menjadi indikasi Bearish continuation," ujar Alrich Paskalis, Analis Phintraco Sekuritas.
Kondisi pasar yang memburuk hingga pertengahan hari tersebut dinilai memberikan sinyal kuat bahwa pergerakan indeks masih berisiko jatuh lebih dalam pada sesi perdagangan berikutnya.
"Jika ditutup di bawah 6.000, waspadai pelemahan lanjutan ke suppport area berikutnya 5.900 dan 5.750," kata Alrich Paskalis.
Kemerosotan pasar saham ini didorong oleh penetapan peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management oleh Moody's Ratings serta depresiasi mata uang rupiah yang menembus Rp17.926 per dolar AS.
Tekanan mata uang Garuda terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia akibat belum tercapainya perdamaian antara AS dan Iran, sehingga memicu kekhawatiran pembengkakan defisit APBN dan kenaikan inflasi nasional yang per Mei 2026 mencapai 3,08 persen secara tahunan.
"Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, dikhawatirkan inflasi akan kembali meningkat. Sehingga potensi kenaikan BI Rate masih terbuka di tengah potensi kenaikan inflasi dan berlanjutnya depresiasi Rupiah. Tren kenaikan suku bunga berpotensi menjadi sentimen negatif bagi bursa saham," tulis Phintraco Sekuritas.
Selain faktor ekonomi makro tersebut, kekhawatiran pelaku pasar terhadap hasil evaluasi berkala pasar modal Indonesia oleh MSCI turut menambah ketidakpastian di lantai bursa.