Pasar saham Indonesia mengalami koreksi tajam setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG merosot sebesar 4,52 persen atau kehilangan 252,62 poin ke level 5.342,13 pada akhir perdagangan Senin (8/6), dilansir dari Investasi.
Aksi lepas saham oleh pemodal internasional memicu penurunan ini, dengan catatan penjualan bersih asing mencapai Rp44,76 miliar atau setara US$24,60 juta dalam sehari. Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, nilai penjualan bersih investor asing kini telah menembus angka Rp61,80 triliun.
Kombinasi faktor internal dan eksternal dinilai menjadi pemicu utama di balik berlanjutnya tekanan jual di pasar domestik. Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta keluarnya dana asing secara masif masih membayangi pergerakan indeks.
“Selain itu, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga The Fed turut meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar,” jelas Liza kepada Kontan, Senin (8/6).
Pihak analis memproyeksikan pergerakan indeks dalam jangka pendek akan berada pada rentang yang terbatas sembari menanti adanya sentimen penahan baru. Saat ini, batas bawah jangka panjang indeks diproyeksikan berada di rentang 5.450 hingga 5.400.
“Sementara itu, area resistance berada di kisaran 5.860 hingga 5.880. Adapun level psikologis berikutnya berada di area 6.000,” kata Liza.
Langkah hati-hati dengan mengutamakan manajemen risiko kini menjadi pilihan utama bagi pelaku pasar. Sikap menunggu dinilai lebih aman ketimbang melakukan pembelian saham kembali secara agresif di saat tren penurunan belum berbalik.
Kondisi jenuh jual sebenarnya sedang melanda pasar modal saat ini. Namun, kepastian mengenai kebijakan fiskal dalam negeri dan penguatan nilai tukar rupiah menjadi prasyarat utama agar pemulihan pasar dapat berjalan secara konsisten.
"Namun selama tidak muncul sentimen negatif baru yang signifikan, level psikologis IHSG sekitar 5.000 diperkirakan akan tetap terjaga," katanya.
Penurunan indeks yang melampaui estimasi awal juga membuka peluang terjadinya pelemahan lanjutan. Berdasarkan hitungan teknikal sebelumnya, indeks dinilai memiliki probabilitas besar untuk menuju ke level yang lebih rendah.
"Setelah terlewati, IHSG dengan tingkat probabilitas 72% berpotensi menyentuh level 5.080," ucapnya.
Kecepatan pergerakan indeks menuju batas bawah tersebut akan sangat bergantung pada kebijakan yang diambil oleh otoritas terkait. Kepercayaan investor perlu segera dipulihkan guna menahan laju penurunan yang terlalu cepat.
"Apabila pemerintah tidak segera melakukan sesuatu, IHSG akan dengan sangat cepat menuju level 5.080, di mana level psikologis IHSG berada di 5.000," katanya.
Sebagai acuan pergerakan jangka pendek berikutnya, batas teknikal penting yang perlu diperhatikan berada pada rentang harga 5.180 hingga 5.380.