IHSG Anjlok ke Level 6400 Akibat Tekanan Pasar Global

IHSG Anjlok ke Level 6400 Akibat Tekanan Pasar Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam hingga 4,18 persen ke level 6.442 pada perdagangan intraday hari Senin (18/5/2026) pukul 10.29 WIB akibat akumulasi sentimen negatif global. Kejatuhan indeks domestik ini dipicu oleh penyesuaian konstituen indeks MSCI, rencana FTSE Russell, pelemahan bursa regional, serta depresiasi nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.700 per dolar AS.

Data RTI Business yang dilansir Katadata menunjukkan volume perdagangan mencapai 16,21 miliar saham dengan nilai transaksi Rp8,72 triliun, di mana hanya 69 saham yang mencatatkan kenaikan. Kondisi ini membuat kapitalisasi pasar saham Indonesia menguap hingga Rp5.278 triliun dari level tertinggi sepanjang sejarah di posisi 9.134 yang sempat dicapai pada 20 Januari 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penurunan ini merupakan dinamika jangka pendek dan kondisi fundamental ekonomi nasional tetap dalam keadaan kokoh di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

"Nggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Kan pondasi ekonominya kan bagus, itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi, saya akan fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu," beber Purbaya.

Purbaya menjelaskan bahwa situasi kejatuhan pasar saat ini sangat berbeda dengan krisis finansial yang terjadi pada tahun 1998 silam.

"Oh ini kan banyak sentimen. Kalau rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda 1998 itu kebijakannya salah," ujar Purbaya.

Purbaya menambahkan bahwa saat ini ekonomi Indonesia tidak berada dalam fase resesi melainkan masih tumbuh dengan cepat.

"Kita kan sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang, jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," beber Purbaya.

Purbaya kemudian menyarankan para investor domestik untuk memanfaatkan momentum penurunan harga beruntun ini sebagai kesempatan membeli saham.

"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Jadi, jangan lupa beli saham," pungkas Purbaya.

Purbaya juga memprediksi pergerakan indeks akan segera mengalami pembalikan arah dalam waktu dekat berdasarkan analisis teknikal pasar.

"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari udah balik. Jadi, jangan lupa beli saham," kata Purbaya.

Presiden Prabowo Subianto turut memberikan tanggapan dan meminta masyarakat untuk tetap tenang menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah saat meresmikan Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Sabtu (16/6/2026).

"Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar," kata Prabowo.

Prabowo menilai kekhawatiran berlebih mengenai pelemahan nilai tukar mata uang asing umumnya hanya dirasakan oleh kalangan tertentu yang sering bepergian ke luar negeri.

"Orang mau bilang apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita," ujarnya.

Analis Ekonomi Politik Pasar Saham FINE Institute Kusfiardi menjelaskan bahwa volatilitas yang terjadi merupakan dampak langsung dari ketergantungan pasar modal domestik terhadap pergerakan dana asing.

“Pelajaran terbesar dari Mei 2026 adalah problem pasar modal Indonesia bukan sekadar volatilitas, tetapi struktur ketergantungan. Selama market depth masih dangkal, investor domestik lemah, free float rendah, serta governance belum kuat, maka MSCI, foreign flow, dan risk sentiment global akan terus memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah pasar Indonesia,” ujar Kusfiardi.

Kusfiardi menilai penyesuaian bobot indeks global secara otomatis memicu reallokasi kapital tanpa melihat kondisi riil fundamental ekonomi Indonesia.

“Secara formal MSCI bukan regulator Indonesia. Namun secara riil, MSCI memiliki pengaruh besar terhadap alokasi modal internasional, perilaku passive funds global, dan persepsi investability Indonesia. Kasus Mei 2026 menunjukkan bahwa stabilitas pasar domestik masih sangat dipengaruhi oleh structural power of global finance melalui indeks internasional, dana pasif global, dan mekanisme external market discipline, meskipun lembaga tersebut tidak memiliki otoritas hukum formal di Indonesia,” jelasnya.

Analis Doo Financial Lukman Leong menyatakan penguatan dolar AS dipicu aksi jual massal aset keuangan global termasuk obligasi, saham, dan kripto.

“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global. Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off seluruh aset,” ujar Lukman.

Riset Syailendra Capital memperkirakan pertumbuhan laba per saham pasar saham Indonesia berada di kisaran 8 persen hingga 10 persen pada 2026, dengan estimasi nilai wajar IHSG secara fundamental berada di kisaran level 6.500.

“2026 akan menjadi titik momentum penting dimana pasar memiliki ekspektasi atas earnings recovery dibandingkan di tahun 2025,” tulis riset Syailendra Capital.

Artikel terkait

Rekomendasi