IHSG Anjlok Nyaris Lima Persen Akibat Tekanan Rupiah

IHSG Anjlok Nyaris Lima Persen Akibat Tekanan Rupiah

Nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp17.900 per dolar Amerika Serikat memicu kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan hampir lima persen pada penutupan sesi I perdagangan Rabu (3/6).

Data RTI Infokom menunjukkan indeks saham domestik tersebut merosot sebesar 4,94 persen atau kehilangan 305,9 poin hingga terlempar ke level 5.889 pada pukul 12.00 WIB. Kondisi pasar diwarnai oleh koreksi massal dengan tercatatnya 714 saham melemah, sedangkan hanya 35 saham yang menguat dan 64 saham lainnya bertahan stagnan.

Pergerakan indeks pada hari ini memperlihatkan volatilitas tinggi setelah sempat menguat ke level 6.207 pada saat pembukaan pasar. Indeks bahkan sempat menyentuh posisi tertingginya di level 6.213 sebelum akhirnya berbalik arah secara drastis hingga menyentuh titik terendah pada level 5.876.

Aktivitas perdagangan pada paruh pertama hari ini mencatatkan nilai transaksi yang cukup besar mencapai Rp14,89 triliun. Total volume saham yang berpindah tangan mencapai 26,37 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan yang menyentuh angka 1,798 juta kali transaksi.

Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menjelaskan bahwa kemerosotan tajam pada penutupan sesi pertama ini sangat dipengaruhi oleh pelemahan mata uang garuda terhadap dolar AS. Selain faktor eksternal tersebut, aksi ambil untung pada sejumlah emiten besar turut memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan indeks.

"Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas," ujar Ivan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (3/6).

Evaluasi pergerakan grafik pasar modal secara teknikal juga menunjukkan indikasi yang kurang menguntungkan bagi pemulihan indeks dalam waktu dekat. Menurut penilaian dari pihak Binaartha Sekuritas, indeks saham saat ini masih terjebak dalam tren penurunan yang kuat.

"Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrendnya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid," tambahnya.

Artikel terkait

Rekomendasi