Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ambles signifikan sebesar 3,54 persen atau turun 223,56 poin ke posisi 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Penurunan tajam hingga menembus level psikologis 6.100 ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif domestik serta global, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Aksi jual investor meningkat drastis di tengah ketatnya kondisi global dan ketidakpastian arah kebijakan. Pelemahan ini juga dipengaruhi oleh sentimen hasil rebalancing indeks MSCI yang mendorong aliran modal asing keluar dari beberapa saham berkapitalisasi besar.
Faktor penekan internal lainnya adalah kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Langkah tersebut direspon negatif karena berpotensi memperketat likuiditas pasar keuangan dan menahan pertumbuhan kredit perbankan.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memaparkan bahwa koreksi bursa saham domestik tersebut sudah sesuai dengan proyeksi teknikal sebelumnya.
"IHSG terkoreksi 3,54% ke 6.094,94. Koreksi ini diperkirakan dipicu sentimen hasil rebalancing MSCI, di mana beberapa saham big caps yang keluar dari indeks mendorong terjadinya outflow," ujar Herditya Wicaksana.
Sentimen eksternal turut memperberat langkah IHSG setelah risalah Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan bank sentral AS tetap bersikap hawkish demi meredam inflasi. Kondisi ini memicu penguatan dolar AS dan meningkatkan arus modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Herditya Wicaksana menambahkan bahwa pergerakan indeks ke depan masih berisiko menghadapi tekanan lanjutan pada perdagangan berikutnya.
"IHSG kami perkirakan masih rawan koreksi dengan support di 6.000 dan resistance di 6.132," tambah Herditya Wicaksana.
MNC Sekuritas kemudian merekomendasikan saham HMSP pada kisaran Rp780–Rp815, PGAS di Rp1.870–Rp1.935, serta WIIM di Rp1.865–Rp1.960 untuk dicermati investor.
Dominasi tekanan jual yang tinggi di pasar saham domestik ini juga ditekankan oleh Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana.
"IHSG yang turun hingga menembus level 6.100 menunjukkan dominasi tekanan jual masih tinggi, bahkan saat bursa Asia cenderung bergerak positif," jelas Hendra Wardana.
Selain faktor global, ketidakpastian kebijakan dalam negeri mengenai rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam menjadi pemicu kekhawatiran baru bagi para investor.
"Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor, sehingga memicu kekhawatiran investor," ujarnya.
Beban pasar saham diperberat oleh terdepresiasinya nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS beserta derasnya arus modal keluar.
Hendra Wardana menilai posisi indeks saat ini masih terjebak dalam tren bearish yang kuat tanpa adanya tanda-tanda pembalikan arah.
"Area 6.000 menjadi support krusial. Jika ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke 5.880–5.900," ungkap Hendra Wardana.
Kendati demikian, peluang technical rebound jangka pendek tetap terbuka melalui aksi bargain hunting pada saham-saham unggulan. Investor disarankan memilih saham defensif yang berfundamental kokoh seperti TLKM di area beli Rp2.860 dengan target Rp3.200, CPIN berorientasi Rp4.500, INDF menuju Rp7.000, serta TINS dengan target Rp3.700.