IHSG Anjlok 3,46 Persen di Tengah Stabilitas Bursa Saham Global

IHSG Anjlok 3,46 Persen di Tengah Stabilitas Bursa Saham Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia merosot tajam sebesar 3,46 persen ke level 6.370 pada penutupan perdagangan Selasa (19/5). Kejatuhan ini memposisikan pasar modal domestik sebagai salah satu dengan kinerja terburuk di Asia, saat bursa global justru cenderung stabil.

Kondisi pasar dalam negeri berbanding terbalik dengan penguatan di sejumlah bursa regional, seperti Hang Seng Hong Kong yang naik 0,48 persen dan Straits Times Singapura sebesar 1,21 persen. Redanya gejolak geopolitik Timur Tengah setelah penundaan serangan militer Amerika Serikat ke Iran menjadi pendorong stabilitas global tersebut.

Anjloknya indeks domestik secara merata di berbagai sektor dipengaruhi oleh kombinasi melemahnya nilai tukar rupiah hingga tembus Rp17.700 per dolar AS serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah suku bunga acuan Bank Indonesia. Selain itu, sentimen negatif dipicu oleh rebalancing indeks MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham blue chip Indonesia.

"Ini menunjukkan tekanan terhadap pasar domestik saat ini bukan hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan mulai rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek," kata Hendra Wardana, Founder Republik Investor seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Hendra menjelaskan bahwa penurunan kali ini sangat serius karena memicu aksi pengurangan risiko besar-besaran oleh investor institusi dan asing, terutama pada saham industri dasar yang anjlok 7,30 persen.

"Pelemahan IHSG kali ini juga tergolong cukup serius karena terjadi hampir merata di berbagai sektor, terutama basic industry yang anjlok hingga 7,30 persen," ujarnya.

Aliran modal keluar semakin deras karena pasar masih bersikap wait and see terhadap kepastian arah kebijakan fiskal dan kemampuan pemerintah dalam mengendalikan inflasi impor akibat depresiasi rupiah.

"Ketika rupiah terus melemah bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham, maka tekanan terhadap IHSG biasanya akan menjadi lebih besar," jelasnya.

Pasar kini menantikan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR pada Rabu (20/5) sebagai stimulus penentu arah pergerakan indeks selanjutnya.

"Pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah," tegasnya.

Di sisi lain, reformasi regulasi yang diperketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak awal 2026 dinilai turut memberikan tekanan jangka pendek terhadap keputusan transaksional investor institusi asing.

"OJK dalam benahi pasar modal memang justru membuat beberapa emiten dengan kapitalisasi jumbo yang dinilai belum memenuhi kriteria kepemilikan publik yang ideal menurut standar global, itu memang justru efeknya membuat para pelaku pasar lebih cenderung prudent (hati-hati)," kata Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Kewaspadaan ini diperparah langkah MSCI yang membekukan konstituen baru asal Indonesia serta menghapus 6 saham dari MSCI Global Standard Index sehingga memicu capital outflow sekitar Rp50 triliun secara year to date.

"Hal ini memicu kecemasan investor institusi asing yang memang sangat sensitif terhadap good corporate governance, tapi ini reformasi yang dijalankan oleh OJK and SRO ini secara fundamental bagus in the long run. Kalau secara jangka pendek, wajar karena ada penyesuaian," imbuhnya.

Nafan menegaskan bahwa pengumuman rebalancing indeks global tersebut menjadi faktor paling dominan yang menekan pergerakan IHSG belakangan ini.

"Jadi memang penurunan IHSG secara signifikan memang sangat didominasi oleh dinamika pengumuman MSCI," katanya.

Sebelumnya pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, Phintraco Sekuritas mencatat IHSG sempat dibuka melemah tipis 0,03 poin ke posisi 6.599,21 sebelum akhirnya merosot parah sepanjang hari.

"Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.400- 6.700," ujar Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas di Jakarta melalui laporan Antara.

Artikel terkait

Rekomendasi