Pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah tajam sebesar 4,11 persen. Berdasarkan data perdagangan yang dikutip dari Suara pada Rabu (3/6/2026), indeks merosot hingga ke level 5.936,05.
Pada awal perdagangan pukul 11:00 WIB, IHSG sebenarnya dibuka pada posisi 6.207,10. Indeks bahkan sempat merangkak naik hingga menyentuh level tertinggi hariannya di posisi 6.213,80.
Namun, aksi jual masif yang dilakukan oleh para pelaku pasar modal kemudian memicu pergerakan liar. Tekanan jual yang terus menguat sepanjang sesi menyeret IHSG ke level terendah harian sekaligus level penutupannya di posisi 5.936,05.
Kemerosotan ini mencerminkan tingginya kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi nasional. Kekhawatiran tersebut diperparah oleh fenomena hengkangnya arus modal asing yang terus mengalir keluar dari pasar domestik.
Selain faktor ekonomi, sentimen negatif psikologis pasar juga dipicu oleh langkah hukum Kejaksaan Agung. Korps Adhyaksa dilaporkan melakukan penggeledahan di Kantor Pusat Badan Gizi Nasional atau BGN setelah pencopotan Kepala BGN Dadan Hindaya.Penurunan tajam indeks ini berisiko menggerus nilai kekayaan para investor dalam jumlah yang cukup signifikan. Meski demikian, nilai kapitalisasi pasar seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia terpantau masih bertahan di atas kisaran Rp10.418 triliun.
Aktivitas transaksi di lantai bursa tercatat sangat padat dengan volume perdagangan mencapai 18,70 miliar saham. Nilai transaksi keseluruhan menembus angka Rp11,89 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 1,424 juta kali.
Tingginya angka perdagangan ini memperlihatkan pergerakan dinamis investor yang ramai-ramai melakukan penataan ulang portofolio. Langkah reposisi ini diambil guna memitigasi risiko di tengah volatilitas pasar yang sedang tinggi.
Tekanan jual yang terjadi melanda hampir seluruh sektor saham secara merata. Hal ini terlihat dari minimnya saham yang mampu menguat, yakni hanya 61 saham, berbanding terbalik dengan 704 saham yang melemah dan 194 saham stagnan.
Sejumlah analis berpendapat bahwa pergerakan indeks saat ini sepenuhnya berada di bawah kendali sentimen negatif. Volatilitas tinggi diprediksi masih membayangi IHSG dalam beberapa sesi ke depan apabila tekanan domestik dan eksternal belum mereda.