Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 4,2 persen hingga mendarat pada level support baru di posisi 5.594,76 pada Jumat (5/6/2026).
Kemerosotan ini membawa indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut menyentuh angka terendahnya sejak 18 November 2020 akibat tekanan jual pada sektor perbankan.
Dilansir dari Keuangan, kejatuhan indeks dipicu oleh anjloknya harga saham empat bank berkapitalisasi besar yang sekaligus mencatatkan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing dalam jumlah signifikan sepanjang tahun berjalan.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot 6,45 persen ke level Rp 5.075 per saham, menjadi titik terendah sejak Juni 2020 dengan catatan net sell asing mencapai Rp 31,5 triliun secara year to date.
Penurunan tajam juga membayangi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang melemah 6,14 persen ke posisi Rp 3.210 per saham, yang menjadi koreksi terbesar sejak Mei 2020 dengan net sell asing sebesar Rp 2,7 triliun.
Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terjerembap 3,27 persen ke level Rp 3.840 per saham yang merupakan level terendah sejak Juli 2022, diiringi aksi jual bersih asing senilai Rp 11,01 triliun.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 2,49 persen ke harga Rp 2.740 per saham, menempatkannya pada level terendah sejak Mei 2020 dengan net sell asing mencapai Rp 9,6 triliun.
Walau persentase penurunannya paling kecil di antara kelompok perbankan besar, saham BBRI menjadi penekan utama (laggard) terbesar bagi IHSG dengan sumbangan poin negatif sebesar -11,04 persen terhadap indeks.
Meskipun terjadi pelemahan mendalam, data konsensus analis yang dihimpun Bloomberg menunjukkan mayoritas pelaku pasar profesional masih menyematkan rekomendasi beli (buy) untuk saham-saham bank raksasa tersebut.
Saham BBCA ditargetkan melaju ke level Rp 8.826,79 per saham berdasarkan penilaian dari 37 analis, dengan rincian 35 analis merekomendasikan beli dan 2 analis menyarankan tahan (hold).
Konsensus Bloomberg untuk saham BBNI menghasilkan target harga rata-rata Rp 4.773 per saham dari total 35 analis, yang meliputi 30 rekomendasi beli, 4 tahan, dan 1 jual (sell).
Untuk saham BBRI, rata-rata target harga berada di posisi Rp 4.108 per saham dari analisis yang dilakukan oleh 30 analis dengan rekomendasi beli, 4 analis menyarankan tahan, dan 2 analis menyarankan jual.
Adapun saham BMRI dipatok pada target harga Rp 5.688 per saham oleh 39 analis yang mengkavernya, di mana 30 analis memberi rekomendasi beli, 6 menyarankan tahan, dan 3 analis merekomendasikan jual.