IHSG Anjlok 3 Persen di Tengah Kunjungan Pejabat ke BEI

IHSG Anjlok 3 Persen di Tengah Kunjungan Pejabat ke BEI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot tajam sebesar 3,08 persen atau berkurang 202,97 poin ke level 6.396,27 pada akhir perdagangan sesi I hari Selasa (19/5/2026). Penurunan signifikan ini memicu respons cepat dari jajaran pejabat tinggi negara yang langsung mendatangi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.

RTI Business mencatat indeks saham domestik sempat dibuka pada posisi 6.599,213 dan menyentuh angka tertinggi 6.635,127 sebelum akhirnya terus tertekan hingga menyentuh level terendah di 6.376,343. Penurunan ini menyebabkan nilai kapitalisasi pasar menyusut sebesar Rp402 triliun dibandingkan hari sebelumnya menjadi Rp11.137 triliun.

Data Refinitiv menunjukkan sebanyak 639 emiten mengalami penurunan harga, 217 saham stagnan, dan hanya 103 emiten yang menguat dengan nilai transaksi menyentuh Rp15,11 triliun dari 26,12 miliar saham yang diperdagangkan. Sektor bahan baku merosot paling dalam hingga 8,4 persen akibat kejatuhan saham-saham grup Prajogo Pangestu, seperti Ekamas Mora Republik (MORA) yang anjlok 11,41 persen dan Chandra Asri (TPIA), disusul saham nonsumber daya seperti Bank Central Asia (BBCA).

Tekanan masif terhadap pasar modal ini dipicu oleh aksi lepas saham oleh investor setelah adanya rebalancing indeks global, di mana tiga dari lima saham penggerak utama tersebut dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index. Selain itu, FTSE Russell melalui pengumuman resmi "Index Treatment for the June 2026 Index Review" pada Rabu (13/5/2026) memberikan sinyal akan menghapus saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) di BEI pada harga nol per 22 Juni 2026. Pelemahan ini juga diperparah oleh nilai tukar rupiah yang melemah 0,51 persen ke posisi Rp17.730 per dolar AS pada pukul 12.49 WIB.

Merespons situasi ini, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani, dan Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengadakan pertemuan intensif dengan direksi bursa di Gedung BEI.

"Kami tadi sudah banyak berdiskusi tadi di atas, bagaimana kita meyakinkan untuk menguatkan investor global yang akan masuk di bursa ..." kata Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad terkait upaya menjaga kepercayaan pasar.

DPR bersama otoritas terkait kini fokus mendengarkan pemaparan regulasi baru yang dirancang guna memproteksi kenyamanan investor domestik di tengah pertumbuhan jumlah pelaku pasar lokal.

"Dengan kami kemudian mendengarkan paparan dari pemerintah bursa bagaimana mereka kemudian menyempurnakan regulasi-regulasi yang bisa kemudian meyakinkan dan juga kemudian membuat para investor lokal yang merasa nyaman," ujar Sufmi Dasco Ahmad.

Pihak parlemen menilai penguatan basis investor retail yang dikombinasikan dengan stabilitas ekonomi nasional menjadi fondasi utama bagi ketahanan pasar modal Indonesia ke depan.

"Sehingga tadi kita lihat bahwa pertumbuhan investor lokal atau retail terus bertambah dan itu kemudian dengan fundamental yang ada kita yakin dan percaya bahwa bursa kita ke depan akan semakin kuat," kata Sufmi Dasco Ahmad.

Aktivitas pembenahan sistem dan aturan transaksi bursa ini diharapkan dapat memberikan dampak pemulihan yang nyata pada pergerakan saham dalam waktu dekat.

"Mudah-mudahan kita akan melihat langsung setelah tanggal 29 [Mei MSCI] ini semua yang dilakukan atas kerja keras dan niat baik ini akan memiliki hasil," kata Sufmi Dasco Ahmad.

Dalam kesempatan yang sama, Otoritas Jasa Keuangan menegaskan bahwa koreksi indeks sedalam 1,98 persen pada hari pertama pengumuman MSCI dan 1,85 persen pada Senin (18/5/2026) kemarin masih tergolong wajar dan sejalan dengan kondisi bursa regional akibat sentimen geopolitik Timur Tengah serta kebijakan moneter hawkish global.

"Kita melihat pergerakan indeks kita sudah lebih secara fundamental dan juga sekarang IHSG pergerakannya juga relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI, maupun subindeks utama seperti LQ45 dan juga IDX30 dan juga IDX80," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.

OJK menilai pergerakan harga saham di lantai bursa saat ini tidak lagi sekadar digerakkan oleh kepanikan pasar short-term melainkan sudah merujuk pada penilaian kinerja perusahaan yang riil.

"Ini mencerminkan price discovery yang lebih fundamental tadi sebelum saya sampaikan di mana pergerakan saham lebih ditopang oleh aspek fundamental dibandingkan oleh sentimen semata," ujar Friderica Widyasari Dewi.

Meskipun pasar saham sedang bergejolak, OJK mencatat indikator positif dari sektor domestik berupa kenaikan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksadana sebesar Rp49,71 triliun atau tumbuh 6,39 persen menjadi Rp718,44 triliun yang ditopang oleh kontribusi masif investor retail.

"Jadi ini menurut kami sangat baik perbaikan-perbaikan yang dilakukan," kata Friderica Widyasari Dewi.

Artikel terkait

Rekomendasi