Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebesar 19,55 persen secara year to date (ytd) hingga April 2026 akibat tingginya ketidakpastian global. Pelemahan ini dikonfirmasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam konferensi pers virtual pada Selasa (5/5/2026).
Dilansir dari Detik Finance, posisi IHSG berada pada level 6.956,80 yang menunjukkan penurunan sebesar 1,3 persen secara bulanan (mtm). Kondisi pasar saham domestik dinilai masih bergerak sangat dinamis merespons fluktuasi ekonomi dunia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menjelaskan faktor utama di balik pergerakan indeks tersebut. Penjelasan ini disampaikan dalam pemaparan hasil Rapat Dewan Komisioner OJK.
"Pasar saham domestik pada April 2026 masih terlihat bergerak dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan secara global," ungkap Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.
Meskipun indeks saham terkoreksi, OJK memastikan ketahanan pasar modal dalam negeri tetap terjaga dengan likuiditas yang stabil. Hal ini tercermin dari angka rata-rata spread bid-ask yang tercatat rendah sebesar 1,33 kali selama periode April 2026.
Berbeda dengan pasar saham, sektor obligasi domestik menunjukkan performa positif melalui kenaikan Indonesia Composite Bond Index (ICBI) sebesar 0,74 persen secara bulanan ke level 436,38. Penguatan ini dipicu oleh penurunan rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 3,9 basis poin.
Kepercayaan investor asing terhadap instrumen utang negara juga terlihat dari aksi beli bersih atau net buy oleh investor non-residen di pasar SBN. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp 8,8 triliun secara month to date hingga tanggal 29 April 2026.
Sektor pengelolaan investasi turut mencatatkan pertumbuhan dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp 711,89 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,32 persen secara bulanan dan 5,41 persen jika dihitung sejak awal tahun.
Pertumbuhan industri reksa dana ini didorong oleh aliran masuk dana investor yang signifikan. Tercatat net subscription mencapai Rp 8,11 triliun dalam satu bulan dan menyentuh total Rp 37,24 triliun sepanjang tahun berjalan 2026.
"Kinerja industri reksa dana yang tetap terjaga ini ditopang oleh kecenderungan investor reksa dana untuk tetap melakukan subscription dengan angka net subscription sebesar Rp 8,11 triliun secara month to date dan total sebesar Rp 37,24 triliun rupiah secara year to date," pungkas Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.