IHSG Berpotensi Fluktuatif Akibat Penurunan Kepercayaan Pasar Saham

IHSG Berpotensi Fluktuatif Akibat Penurunan Kepercayaan Pasar Saham

Volatilitas diperkirakan masih membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari terakhir perdagangan Mei, tepatnya Jumat (29/5/2026), akibat pengaruh berbagai sentimen domestik dan global, seperti dilansir dari Investasi.

Kondisi fundamental ekonomi dalam negeri serta tingkat kepercayaan investor kini menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar saham tanah air. Isu rebalancing indeks MSCI pada awal Juni mendatang dinilai tidak akan mengganggu indeks secara jangka pendek.

Pengamat pasar modal Irwan Ariston menjelaskan bahwa sentimen terkait penyesuaian bobot indeks global tersebut sudah diantisipasi lebih awal oleh para pelaku pasar di bursa.

"Saat ini saya tidak terlalu melihat permasalahan MSCI ini memiliki pengaruh signifikan pada pergerakan IHSG karena sudah didiskon oleh pelaku pasar," ujarnya Irwan Ariston.

Faktor penentu pergerakan indeks saham domestik saat ini lebih tertuju pada stabilitas ekonomi nasional. Irwan Ariston menambahkan bahwa prospek fundamental ekonomi menjadi acuan utama bagi para pemodal.

"Pergerakan harga saham lebih dipengaruhi kondisi dan prospek fundamental ekonomi Indonesia," jelas Irwan Ariston.

Salah satu sorotan utama dalam penurunan kepercayaan ini terlihat dari pergerakan nilai tukar mata uang domestik. Ketika mata uang dari negara lain berada dalam posisi yang stabil atau menguat, nilai tukar rupiah justru terus mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

"Hal ini bisa kita lihat dengan terusnya melemah kurs rupiah terhadap dolar AS di saat mata uang negara lain cenderung menguat ataupun netral," katanya Irwan Ariston.

Penyelenggara negara dituntut untuk menjaga kredibilitas karena aspek kepercayaan merupakan landasan paling krusial. Kepercayaan tersebut berdampak langsung pada ketertarikan masyarakat maupun pelaku pasar terhadap berbagai instrumen investasi.

"Di dalam dunia investasi maupun ekonomi dan politik, kepercayaan pasar maupun masyarakat adalah hal utama dan pertama yang harus dimiliki penyelenggara negara," tegas Irwan Ariston.

Ket ketidakpastian yang tinggi otomatis akan membuat instrumen pasar modal menjadi kurang kompetitif. Risiko yang membayangi para investor kini semakin meluas ke berbagai sektor di luar ekonomi murni.

"Tanpa kepercayaan yang solid, saham apa pun saat ini menjadi tidak menarik lagi karena risiko meningkat," imbuhnya Irwan Ariston.

Evaluasi terhadap kebijakan pemerintah kini dilakukan secara lebih ketat oleh pelaku pasar. Keamanan, kepastian hukum, stabilitas politik, serta realisasi janji perbaikan dari otoritas menjadi poin-poin yang terus dipantau secara langsung di lapangan.

"Pelaku pasar akan menilai apakah ucapan dan janji tersebut dilanjutkan dengan tindakan perbaikan atau tidaknya," ujarnya Irwan Ariston.

Menghadapi tren fluktuatif yang diproyeksikan masih berlanjut hingga pekan depan, langkah kehati-hatian sangat disarankan bagi para pemodal di bursa efek. Bagi para pelaku pasar yang baru terjun, menahan diri menjadi pilihan terbaik.

"Untuk yang masih baru, sebaiknya wait and see dulu saja, menunggu sampai ada perubahan nyata," katanya Irwan Ariston.

Pemilik portofolio aktif diimbau untuk kembali memeriksa kondisi keuangan serta kekuatan fundamental dari emiten yang mereka pilih. Langkah penyesuaian berupa pengurangan posisi atau bertahan tetap dapat diambil sesuai profil risiko individu.

"Pastikan saham yang dimiliki memiliki fundamental yang kuat, walaupun risiko penurunan tetap ada," tambahnya Irwan Ariston.

Investor juga memiliki fleksibilitas untuk menyusun kembali komposisi aset mereka dalam jangka pendek. Penyesuaian ini dapat dilakukan sembari memantau perkembangan situasi ekonomi nasional dalam beberapa bulan mendatang.

"Tindakan yang bisa dilakukan bisa dengan mengurangi jumlah kepemilikan, atau tetap hold sambil berharap terjadinya perbaikan dalam 2-3 bulan ke depan," tutup Irwan Ariston.

Artikel terkait

Rekomendasi