Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berpotensi mengalami koreksi lanjutan akibat kombinasi tekanan global dan domestik sebelum mampu membangun penguatan yang solid. Situasi pasar modal saat ini dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga global yang tinggi serta agresivitas aksi jual bersih oleh investor asing, Minggu (24/5) malam.
Penurunan indeks saham domestik diperparah oleh depresiasi nilai tukar rupiah yang cepat, sehingga menggerus imbal hasil saham Indonesia. Dilansir dari Investasi, sentimen dalam negeri seperti perlambatan daya beli masyarakat dan ketidakpastian regulasi membuat pelaku pasar memilih bersikap waspada.
Analis pasar modal Hendra memperkirakan pergerakan indeks masih akan menguji level psikologis penting dalam jangka pendek jika stabilitas arus dana asing belum kembali. Menurutnya, fase kepanikan pasar secara historis baru akan mereda setelah valuasi saham-saham berkapitalisasi besar menyentuh area diskon ekstrem.
"Artinya, dana asing akan tetap memilih bertahan di aset dolar AS dibanding masuk ke emerging market seperti Indonesia," ujar Hendra, analis pasar modal.
Potensi penurunan ke level 6.000 dinilai masih terbuka lebar di tengah volatilitas yang tinggi. Kendati demikian, masuknya aksi perburuan saham murah mulai terlihat pada area dukungan psikologis tersebut.
"Dengan kata lain, potensi koreksi menuju 6.000 masih cukup terbuka sebelum IHSG kembali menemukan momentum penguatan yang lebih solid," kata Hendra.
Meskipun terdapat kekuatan dari peningkatan jumlah investor ritel domestik, sebagian besar di antaranya dinilai masih bergerak berdasarkan emosi jangka pendek. Edukasi yang agresif mengenai manajemen risiko dan investasi berbasis fundamental sangat diperlukan untuk mengubah struktur pasar.
Kondisi pasar saat ini lebih tepat dikategorikan sebagai proses pembentukan landasan baru atau proses dasar, bukan merupakan awal dari fase penguatan linier yang baru. Pergerakan modal besar mulai terdeteksi secara akumulatif pada saham-saham tertentu secara senyap.
"Biasanya fase seperti ini ditandai volatilitas tinggi, indeks naik turun tajam, namun saham-saham tertentu mulai diam-diam dikoleksi pelaku besar," tutur Hendra.
Terdapat indikator utama bagi investor untuk masuk kembali ke pasar, termasuk penguatan rupiah di bawah Rp 17.000 per dolar AS dan aksi beli bersih konsisten pada saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah serta kejelasan arah kebijakan ekonomi nasional juga menjadi kunci pemulihan kepercayaan pasar.
Strategi pemilihan saham secara spesifik kini jauh lebih krusial dibandingkan hanya memilih sektor investasi secara umum. Beberapa saham seperti IMPC, UNVR, ULTJ, dan SCMA mulai menunjukkan daya tarik tersendiri karena faktor valuasi yang murah maupun karakteristik fundamental yang defensif.