IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi Akibat Tekanan Sentimen

IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi Akibat Tekanan Sentimen

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan Rabu (20/5/2026) setelah melemah signifikan 3,46 persen ke level 6.370,68 pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026) dilansir dari Investasi.

Kemerosotan indeks tersebut dipicu oleh rontoknya sejumlah sektor utama seperti komoditas dan konglomerasi, seiring sentimen domestik serta global yang belum mereda.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda menilai bahwa pelemahan tajam IHSG dipengaruhi langsung oleh faktor koreksi sektoral tersebut.

"IHSG pada perdagangan hari ini ditutup melemah signifikan sebesar 3,46% di level 6.370,68. Pelemahan ini didorong oleh sektor komoditas dan juga konglomerasi yang turun signifikan," ujarnya.

Faktor domestik utama yang menekan pasar saham adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp17.723 per dolar AS serta rumor regulasi ekspor satu pintu.

"Pelemahan rupiah memberikan tekanan terhadap aliran dana asing dan meningkatkan kekhawatiran capital outflow," jelasnya.

Selain itu, penundaan full index re-ranking oleh FTSE Russell hingga September 2026 menjadi sentimen negatif tambahan, sementara dari sisi teknikal IHSG masih berada dalam tren bearish.

"Dengan pelemahan ini, IHSG kembali membentuk lower low dengan peningkatan volume jual. Tren bearish masih terjadi dengan support di 6.100-6.300 dan resistance di 6.500-6.600," ungkap dia.

Untuk perdagangan selanjutnya, pergerakan indeks diperkirakan masih akan terbatas dengan kecenderungan melemah yang dibayangi oleh posisi nilai tukar rupiah.

"Sentimen terdekat masih dalam konteks rupiah yang berada di level tinggi dan memicu capital outflow," tambahnya.

Reza juga menyoroti potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang dapat berimbas ganda.

"Keputusan ini berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar saham, meskipun di sisi lain bisa berdampak positif jika mampu memperkuat stabilitas rupiah," ujarnya.

Pandangan serupa mengenai risiko kelanjutan koreksi indeks juga disampaikan oleh pihak MNC Sekuritas karena melihat posisi support dan resistance saat ini.

"IHSG masih rawan terkoreksi dengan support di 6.300 dan resistance di 6.424," katanya Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana.

Menurut Herditya, pasar kini tengah mencermati depresiasi rupiah, revisi aturan Devisa Hasil Ekspor SDA, rencana pembentukan badan khusus ekspor, keputusan suku bunga BI, serta sentimen global dari MSCI dan FTSE.

Terkait rekomendasi saham, Reza menyarankan cermati TLKM (area beli Rp3.050-Rp3.100, target Rp3.150-Rp3.200, stop loss di bawah Rp3.000), BBNI (rentang Rp3.770-Rp3.800, target Rp3.830-Rp3.870, stop loss di bawah Rp3.750), dan MYOR untuk trading buy (kisaran Rp1.770-Rp1.800, target Rp1.820-Rp1.860, stop loss di bawah Rp1.750).

Sementara itu, Herditya merekomendasikan saham JPFA pada rentang Rp2.530-Rp2.590, ANTM di Rp3.060-Rp3.320, serta TLKM di Rp3.180-Rp3.280.

Artikel terkait

Rekomendasi