Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi signifikan akibat dominasi tekanan jual yang cukup besar serta sentimen negatif global pada Jumat (5/6/2026), dilansir dari Investasi.
Kondisi pasar modal Indonesia tersebut kian tertekan oleh aksi jual investor asing dengan catatan aliran dana keluar atau outflow yang menembus angka Rp 57,63 triliun secara tahun berjalan.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga melemah sekitar 1,3 persen selama sepekan terakhir hingga ditutup pada level Rp 18.049 per dolar AS, memicu spekulasi rapat dewan gubernur darurat Bank Indonesia.
Menurunnya kepercayaan pelaku pasar global disinyalir menjadi faktor utama yang memperparah kejatuhan indeks pada penutupan pekan ini.
"Pelemahan pasar diperkirakan dipicu oleh menurunnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan yang terjadi di Indonesia," kata Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Herditya memproyeksikan pergerakan IHSG pada perdagangan Senin (8/6/2026) masih berisiko melanjutkan koreksi dengan batas support di level 5.517 dan resistance pada posisi 5.734.
Di sisi lain, respons negatif investor lokal maupun asing diperparah oleh ketidakpastian regulasi serta munculnya berbagai rumor di pasar domestik.
"Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5,500 pada pekan depan," jelas Valdy Kurniawan, Head of Research and Education Phintraco Sekuritas.
Kekhawatiran pasar mencakup rencana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan yang dinilai berpotensi mengintervensi independensi otoritas keuangan nasional.
Tekanan dari sektor fiskal turut membayangi seiring laporan Kementerian Keuangan terkait defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga Mei 2026 yang membengkak jadi Rp 180,4 triliun.
Meski melonjak dari defisit periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 20,9 triliun, realisasi tersebut masih berada di bawah target pagu defisit tahunan sebesar Rp 689,1 triliun.
Di tengah situasi ini, pelaku pasar dijadwalkan bakal mencermati perilisan data cadangan devisa Mei, indeks keyakinan konsumen, serta penjualan eceran per April 2026 pada pekan depan.