IHSG Ditutup Melemah 1,85 Persen Akibat Tekanan Jual Asing

IHSG Ditutup Melemah 1,85 Persen Akibat Tekanan Jual Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan akibat tekanan aksi jual oleh investor asing dan pelemahan di seluruh sektor saham. Pasar modal Indonesia tidak mampu bertahan di zona hijau akibat sentimen negatif tersebut.

Dilansir dari Detik Finance, perdagangan saham pada Senin (18/5) resmi ditutup pada zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan mengalami kemerosotan sebesar 1,85% yang membuat posisinya tertahan pada level 6.599,24.

Koreksi mendalam ini dipicu oleh aksi investor asing yang membukukan jual bersih senilai Rp 460,34 miliar di pasar reguler. Sementara itu, catatan jual bersih investor asing di seluruh pasar mencapai angka Rp 463,99 miar.

Seluruh sektor saham mencatatkan kinerja negatif pada akhir perdagangan ini. Sektor transportasi menjadi lini yang mengalami kejatuhan paling dalam dengan penurunan mencapai 6,20%.

Pelemahan indeks juga dipengaruhi oleh jatuhnya beberapa saham secara tajam. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk terkoreksi sebesar 14,98%, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk yang melemah 14,88%, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang turun 1,92%.

Meski demikian, terdapat beberapa saham yang menjadi penopang indeks agar tidak merosot lebih dalam. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menguat 4,05%, PT Bayan Resources Tbk naik 6,25%, dan PT Astra International Tbk bertambah 4,35%.

Kondisi pasar global turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan domestik setelah bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones tercatat menguat 0,32% ke posisi 49.686.

Namun, indeks S&P 500 melemah tipis 0,07% menuju level 7.403. Langkah penurunan ini juga diikuti oleh indeks Nasdaq yang mengalami koreksi sebesar 0,51% ke posisi 26.090.

Faktor nilai tukar turut menjadi perhatian setelah mata uang rupiah melemah hingga menyentuh Rp 17.655 per dolar AS. Situasi ini memicu ekspektasi pasar bahwa Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan dari 4,75% menjadi 5,00% untuk menjaga stabilitas.

Di tengah pelemahan pasar, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) justru membukukan pertumbuhan kinerja positif pada kuartal I-2026. Pendapatan emiten peternakan ini naik 23,59% secara tahunan menjadi Rp17,71 triliun dari periode sebelumnya Rp14,33 triliun.

Sektor komersial menyumbang angka terbesar senilai Rp7,04 triliun atau tumbuh 26,29% secara tahunan. Walaupun beban pokok penjualan ikut naik menjadi Rp13,19 triliun, perusahaan tetap meraih hasil positif.

Laba bersih JPFA melonjak signifikan menjadi Rp1,94 triliun jika dibandingkan dengan kuartal I-2025 yang sebesar Rp750 miliar. Kondisi ini membuat laba per saham dasar ikut terkerek naik dari Rp59 menjadi Rp156 per saham.

Sementara itu, PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) berencana melakukan aksi korporasi melalui mekanisme private placement. Perusahaan akan menerbitkan maksimal 1,42 miliar saham Seri C atau setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Pemegang saham utama, Equity Global International Ltd., bersiap menambah modal tunai senilai Rp150 miliar. Dana sebesar Rp60,13 miliar telah diterima akhir Desember 2025, sedangkan sisanya menunggu persetujuan RUPSLB tanggal 25 Juni mendatang.

Aksi ini akan mengubah struktur kepemilikan saham di dalam perusahaan. Porsi kepemilikan Equity Global International Ltd. diproyeksikan akan meningkat dari posisi 68,28% menjadi 71,17%.

Kabar lain datang dari PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) yang telah menyepakati pembagian dividen tunai tahun buku 2025. Emiten ini membagikan dividen sebesar Rp351 per lembar saham dengan total mencapai Rp1,39 triliun.

Rasio pembayaran dividen tersebut setara dengan 57,94% dari total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,40 triliun. Nilai keuntungan pemegang saham ini tercatat lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp328 per saham.

Sepanjang tahun 2025, CITA mengantongi pendapatan bersih senilai Rp2,69 triliun atau naik 12,58%. Meski pendapatan meningkat, laba bersih perusahaan mengalami penurunan tipis menjadi Rp2,40 triliun dari posisi Rp2,49 triliun pada tahun 2024.

Pada penutupan perdagangan 18 Mei, posisi saham CITA berada pada level Rp3.800 per saham dengan proyeksi dividend yield berkisar 9,24%. Jadwal pendaftaran hak dividen atau cum dividen pasar reguler ditetapkan 22 Mei, sedangkan pembayaran dilakukan 12 Juni.

Artikel terkait

Rekomendasi