IHSG Lesu Menjelang Pertengahan 2026 dan Tren IPO Saham Sepi

IHSG Lesu Menjelang Pertengahan 2026 dan Tren IPO Saham Sepi

Pasar saham Indonesia masih menunjukkan kelesuan menjelang pertengahan tahun 2026. Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam diikuti dengan sepinya tren initial public offering (IPO) sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari Investasi, per 22 Mei 2026 tercatat baru ada satu emiten yang berhasil melantai di bursa. Perusahaan tersebut adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) dengan dana yang dihimpun mencapai Rp 0,30 triliun.

Hingga saat ini, BEI mengantongi 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham. Rinciannya terdiri dari 4 perusahaan dengan aset skala menengah dan 11 perusahaan yang memiliki aset skala besar.

Meskipun kondisi pasar sedang sepi, otoritas bursa beberapa kali menegaskan tetap mempertahankan target IPO sebanyak 50 perusahaan pada tahun 2026.

Penurunan tren IPO ini tercatat sudah berlangsung setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2025, hanya ada 26 emiten yang melantai di BEI. Sementara pada 2024 terdapat 41 perusahaan baru, angka yang lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 79 emiten baru.

Direktur Utama Infovesta Utama Parto Karwito menjelaskan, penurunan tren IPO pada tahun 2025 lalu dipengaruhi oleh faktor penilaian MSCI, konflik geopolitik, serta kondisi makro ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI juga memperketat syarat-syarat IPO, meskipun tidak melakukan perubahan pada aturan resmi.

“Kondisi tersebut membuat investor jadi hanya bisa investasi di secondary market yang sudah turun saja, sehingga pilihannya terbatas,” katanya.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai, sepinya aksi IPO pada 2026 mencerminkan kondisi pasar yang jauh lebih selektif terhadap valuasi, kualitas fundamental, dan struktur free float. Situasi ini bukan berarti minat pendanaan di bursa saham telah hilang.

“Jadi dibanding tahun lalu, problem utamanya sekarang bukan hanya jumlah calon emiten, tetapi mismatch antara ekspektasi valuasi penjual dengan appetite investor di pasar sekunder yang sedang jauh lebih hati-hati,” ujarnya.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang berpendapat, sepinya IPO bukan karena perusahaan enggan melantai. Hal ini merupakan kombinasi dari kondisi pasar, perubahan perilaku investor, dan evaluasi besar terhadap kualitas emiten dalam beberapa tahun terakhir.

Faktor penyebabnya mencakup investor yang semakin selektif, hasil IPO terdahulu yang mengecewakan, kondisi pasar global dan domestik yang belum ideal, hingga penurunan valuasi di private market.

Dahulu, banyak startup dan perusahaan berkembang berharap IPO dapat menjadi momentum likuiditas dengan valuasi premium. Namun saat ini, investor publik enggan membayar mahal hanya untuk sebuah narasi, sehingga valuasi IPO mengalami penurunan.

“Akibatnya banyak perusahaan memilih menunda listing dibanding IPO di valuasi rendah,” ujarnya.

Kehadiran sejumlah nama besar seperti RANS Entertainment dan Taman Safari yang dikabarkan akan IPO pada tahun 2026 diharapkan mampu mendorong gairah pasar saham domestik. Kendati demikian, modal nama besar dinilai belum cukup untuk mendongkrak kinerja pasar secara otomatis.

“Ini menarik dari sisi cerita dan daya tarik publik, tetapi itu belum cukup untuk menjadikannya otomatis menarik secara investasi,” kata Rully.

Edwin menambahkan, jika rencana IPO tersebut terealisasi, kedua perusahaan berpotensi menjadi emiten dengan daya tarik tinggi. Hal ini didukung oleh brand awareness yang kuat, keterlibatan konsumen yang besar, serta narasi domestik yang mudah dipahami oleh investor ritel.

Apabila RANS melakukan IPO, perusahaan kemungkinan besar akan menjual narasi mengenai media, ekosistem hiburan, creator economy, lifestyle, dan consumer platform. Aksi korporasi ini diprediksi akan ramai, namun keberlanjutan bisnis yang bergantung pada figur publik menjadi tantangan utama.

Investor institusi umumnya akan sangat memperhatikan aspek recurring revenue, kualitas EBITDA, arus kas, serta skalabilitas bisnis.

“Jadi menarik atau tidak, akan sangat tergantung valuasi. Kalau terlalu mahal hanya karena nama besar, risiko IPO RANS tinggi,” katanya.

Di sisi lain, Taman Safari dinilai mampu menawarkan fundamental yang menarik apabila memiliki laporan keuangan yang sehat, arus kas stabil, pertumbuhan pengunjung yang kuat, serta arah ekspansi yang jelas. Tantangan bisnis pariwisata berfokus pada aset nyata, pengunjung berulang, kekuatan penentuan harga, dan keunggulan merek.

“Apalagi konsumsi domestik Indonesia masih besar. Jika valuasinya reasonable, Taman Safari berpotensi lebih menarik untuk investor jangka panjang dibanding IPO berbasis hype,” tuturnya.

Rully melihat pola dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan banyak saham IPO hanya bergerak kuat di fase awal, kemudian melemah setelah euforia pasar mereda.

Menurut Parto, saham-saham IPO belakangan ini cenderung lebih cocok untuk instrumen investasi jangka pendek. Hal itu disebabkan oleh porsi free float emiten baru yang sedikit, sehingga harga saham mudah terkerek naik pada hari-hari pertama listing guna menarik minat investor.

Berdasarkan perhitungan Infovesta, jika PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dikeluarkan dari daftar karena memiliki anomali, rata-rata imbal hasil seluruh saham IPO dalam lima tahun terakhir adalah sebesar 31,19% dalam setahun.

Namun untuk jangka panjang, para pemegang saham pendiri biasanya ingin merealisasikan keuntungan di harga tinggi. Aksi jual kepemilikan saham tersebut kemudian memicu penurunan harga emiten IPO di pasar sekunder.

“Sifat investor ritel juga menunjang praktik investasi jangka pendek, karena uang biasa diputar ke saham IPO lain atau secondary market,” katanya.

Sistem dan proses pelaksanaan IPO saat ini dinilai sudah baik, namun pengawasan dan eksekusinya dirasa masih kurang. Masalah muncul terkait transparansi alokasi, penggunaan nominee atau investor pinjam nama, hingga transaksi crossing saat IPO yang tidak tercatat.

“Dampaknya free float rendah, sehingga akhirnya MSCI harus memberi sanksi,” paparnya.

Edwin mengamati mayoritas IPO dalam beberapa tahun terakhir lebih menarik untuk momentum trading ketimbang investasi jangka panjang. Hal ini disebabkan karakteristik emiten baru yang memiliki free float kecil, likuiditas tipis, kepemilikan terpusat, valuasi agresif, serta profitabilitas yang belum stabil.

“Akibatnya harga mudah digerakkan alias digoreng. Investor juga sekarang mulai membedakan IPO trading dan IPO investing,” tuturnya.

Langkah Mendorong Kualitas Pasar Modal

Sentimen positif di pasar saham Tanah Air diyakini berpotensi bangkit apabila ada perusahaan berskala besar atau lighthouse yang masuk bursa. Pasar mengharapkan IPO yang mampu meningkatkan kualitas indeks, menambah likuiditas, serta menarik aliran modal asing.

Oleh karena itu, BEI bersama OJK dan perusahaan sekuritas disarankan untuk menggencarkan sosialisasi IPO hingga ke daerah serta memberikan bimbingan intensif bagi kelancaran aksi korporasi calon emiten.

Parto menegaskan pentingnya BEI untuk meningkatkan transparansi serta mengawasi alokasi saham, jumlah free float, penggunaan nominee, laporan keuangan, hingga prospek bisnis. Bursa juga perlu membidik sektor industri yang masih jarang melantai, seperti kecerdasan buatan (AI), IT, data center, bioteknologi, pengolahan limbah, dan tambang logam tanah jarang.

“Tidak perlu terlalu kejar angka 50 (emiten baru tahun 2026). Bursa wajib mendalami due diligence, ketatkan audit, hingga kunjungan mendadak,” ungkapnya.

Rully memberikan saran agar BEI fokus memastikan kualitas emiten baru ketimbang mengejar kuantitas pada tahun ini. Secara realistis, pencapaian target jumlah IPO akan sangat bergantung pada stabilitas pasar di semester kedua serta kesiapan calon emiten menurunkan ekspektasi valuasi.

Investor disarankan untuk lebih jeli mencermati valuasi perusahaan IPO dibandingkan dengan kompetitor di industri sejenis, kualitas laba, arus kas, tingkat utang, porsi free float, masa penguncian saham (lock-up), hingga tujuan penggunaan dana.

“Dalam kondisi pasar saat ini, investor sebaiknya tidak membeli IPO hanya karena cerita besar atau popularitas nama, tetapi harus menilai apakah bisnisnya memang layak dihargai premium dan apakah likuiditas pasca listing cukup sehat,” ungkapnya.

Edwin menambahkan bahwa BEI perlu memperketat kualitas emiten, memperbesar porsi free float, mengevaluasi kebijakan valuasi, serta meningkatkan partisipasi investor institusi. Memaksakan kuantitas dinilai dapat memperburuk risiko reputasi pasar modal beserta regulatornya.

“Untuk investor, terkadang saham IPO terbaik justru dibeli saat 6–12 bulan setelah listing, ketika euforia selesai, dan valuasi mulai rasional,” tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi