Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu oleh kemerosotan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 3,71% menuju level Rp 5.350 per saham. Dilansir dari Keuangan, posisi ini menjadi level paling rendah bagi saham BBCA dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Koreksi harga saham BBCA tersebut beriringan dengan maraknya aksi jual bersih oleh investor asing. Catatan per 3 Juni 2026 menunjukkan net sell asing pada saham BBCA menembus Rp 707,6 miliar, sedangkan total sepanjang tahun ini telah mencapai Rp 31,03 triliun.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham perbankan kedua yang membebani pergerakan IHSG setelah anjlok 3,1% ke posisi Rp 2.810 per saham. Investor asing juga melepas saham BBRI dengan nilai net sell per 3 Juni 2026 mencapai Rp 427,5 miliar, sehingga akumulasi sepanjang tahun ini menyentuh Rp 9,2 triliun.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau kian mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Terkait kondisi ini, Menteri Keuangan Purbaya menyatakan bahwa penurunan nilai tukar rupiah bukan disebabkan oleh persoalan fiskal negara, melainkan dipicu oleh sentimen serta rumor yang berkembang di pasar.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengalami pelemahan yang lebih terbatas, yaitu terkoreksi sebesar 1,73% ke level Rp 3.980 per saham. Sepanjang tahun berjalan, saham BMRI mencatatkan aksi jual bersih oleh investor asing dengan nilai total mencapai Rp 10,86 triliun.
Penurunan paling tajam pada perdagangan 4 Juni 2026 justru dialami oleh saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang merosot hingga 4,2% ke posisi Rp 3.420 per saham. Tekanan jual asing pada BBNI sepanjang tahun ini tercatat sebesar Rp 2,59 triliun, setelah pada 3 Juni 2026 mencatatkan net sell senilai Rp 28 miliar.
Analis Senior Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta berpendapat bahwa pergerakan nilai kurs rupiah yang terus mengalami pelemahan menjadi faktor utama di balik aksi lepas saham perbankan oleh investor asing. Pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 hingga pukul 10.00 WIB, rupiah menyentuh level terendah baru di posisi Rp 18.033 per dolar AS atau melemah 0,37% dari hari sebelumnya.
Nafan Aji Gusta juga menambahkan bahwa sektor perbankan memiliki hubungan erat dengan kondisi makroekonomi domestik. Situasi pergerakan kurs kemudian menjadi pemicu utama bagi investor asing untuk melakukan aksi lepas saham atau offload dalam jangka pendek.
Kendati demikian, Nafan Aji Gusta menegaskan bahwa fundamental dari keempat bank besar tersebut masih berada dalam kondisi solid. Penilaian ini tercermin dari realisasi capaian kinerja keuangan masing-masing perseroan hingga periode April 2026.
Hingga April 2026, BBCA membukukan perolehan laba bersih tertinggi yang mencapai Rp 20,81 triliun, kemudian diikuti oleh BMRI yang mengantongi laba bersih senilai Rp 18,05 triliun. Pada periode yang sama, BBRI mendulang laba bersih sebesar Rp 15,89 triliun dan BBNI mencatatkan laba bersih senilai Rp 7,29 triliun.